Tujuh Menit Saja adalah tiga kata pamungkas yang dihayati komunitas devosan Kerahiman Ilahi. Tiga kata ini memang tidak tercantum dalam Kitab Suci ataupun dalam Buku Catatan Harian Santa Faustina. Namun, sore itu, Jumat (6/10), Romo Ignatius Elis Handoko SCJ mengajak sekitar 200 peserta Kongres Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi (KKKI) Keuskupan Agung Palembang (KAPal), untuk menghayati Tujuh Menit Saja dalam prespektif seorang devosan.
“Kalau devosan berdoa-berdoa terus itu baik, tapi tidak cukup. Anda harus menjadi rasul Kerahiman Ilahi. Maka akhirnya, devosan Kerahiman Ilahi harus menjadi seorang penghayat belas kasih Ilahi. Penghayat apa? Ya, yang menghidupi,” kata Romo Elis.

Spirit Belas Kasih Dari Yesus ala Santa Faustina
Menghayati belas kasih Allah haruslah menggali spiritualitas Kerahiman Ilahi ala Santa Faustina.
“Dia menemukan belas kasih Allah dalam pribadi Yesus. Bagaimana citra belas kasih Allah dipancarkan, dikeluarkan, diungkapkan. Apapun dilakukan Yesus dilakukan-Nya dengan baik. Ia pergi ke mana-mana sambil berbuat baik. Cara kerja-Nya pernuh dengan kebaikan dan kerahiman. Langkah-langkah-Nya dituntun oleh belas kasih,” papar Romo Elis.
Sepanjang hidup Yesus, katanya, hanya melakukan belas kasih. Dia mengajak peserta merasakan belas kasih pada keesokan hari, di mana para peserta akan jalan salib. Lagi selama hidup-Nya, Yesus selalu bergerak menurun.
“Geraknya selalu menurun. Ketika mendapati wanita yang ingin dirajam, dia turun, ‘lho pada ke mana?’ ‘Semua pergi Tuhan.’ Akupun tidak akan menghukumu.’ Ia menunduk ke tanah, menyentuh yang kotor, lalu mengampuni, adem sekali,” katanya.
Bahkan, kata Romo Elis, ketika Tuhan Yesus disalib, “Dia ditelanjangi, dihina, apa yang Dia katakan? Ampunilah mereka. Ketika di salib, masih sempat-sempatnya Dia mengatakan, ‘hari ini juga engkau akan bersama dengan Aku di dalam Firdaus.’ Itulah belas kasih Yesus, citra Allah. Inilah yang menjadi spirit Santa Faustina.”
Tetap Berbelas Kasih Pakai Cara Siklus Belas Kasih
Romo Elis mengajak peserta menyadari dan akhirnya menghidupi belas kasih itu dalam suatu siklus ala Paus Fransiskus. Paus Fransiskus selalu mengatakan, who am I to judge? Pada dasarnya manusia, kita semua makhluk lemah, rapuh, dan berdosa. Namun Allah tetap menerima, menghargai, dan mengasihi. Dia memilih manusia sebagaimana adanya. Maka sikap orang beriman, kita harus berbuat sebagaimana Tuhan Yesus memperlakukan kita. Itulah sikap hidup sehari-hari yang digerakkan oleh belas kasih Allah. Setiap hari kita diundang untuk berbelas kasih.
Bagaimana jika berbelas kasih, tapi selalu ditolak?
“Dalam permenungannya, Santa Faustina Tuhan berkata kepadaku, ‘hendaknya tidak engkau pedulikan bagaimana orang lain bertindak, engkau harus menjadi cerminku yang hidup lewat kasih dan kerahiman.’ Aku menjawab, ‘tetapi Tuhan, mereka sering memanfaatkan kebaikkanku.’ ‘Itu tidak masalah, puteri-Ku. Itu bukan urusanmu. Untuk engkau sendiri, hendaklah engkau selalu berbelaskasih terhadap orang lain, dan khususnya terhadap orang-orang berdosa’,” papar Romo Elis, mengutip BHSF 1446.
** Kristiana Rinawati
