Tidak Cukup Doa, Harus Berbelas Kasih

“Kalau mendengar kata Kerahiman Ilahi? Apa yang ada di benak kita?” tanya Romo Agustinus Giman.

Begitu banyak jawaban dilontarkan para peserta. Ada yang mengatakan belas kasih, kebaikkan, Allah yang Maharahim, dan lain sebagainya.

Lantas dia bertanya alasan mereka ikut komunitas Kerahiman Ilahi. Ia mengaitkannya dalam tiga prinsip dalam beriman, yaitu lex credendi (aturan iman), lex orandi (aturan berdoa), dan lex vivendi (aturan kehidupan). Maksud Romo Giman adalah apa yang kita imani harus didoakan dan rayakan. Apa yang kita imani yang didoakan dan dirayakan, harus menjadi dasar bagaimana kita menjalani kehidupan ini.

Lantas ketiga hal ini dikaitkan dalam tiga dasar iman Katolik, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium. Lex credendi (yang kita imani) sesuai ajaran Kitab Suci dikutip dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Romo Agustinus Giman | Foto: KOMSOS KAPal

“Dalam perjanjian lama ada istilah hesed dan rahamin. Hesed adalah cinta, yang dalam kaitannya dengan perbuatan. Kalau dikaitkan dengan Allah, berarti Allah yang mencintai, Allah yang mengampuni. Dalam Bahasa Indonesia diartikan kasih setia,” jelas Romo Giman.

Rahamin sebenarnya sangat dekat dengan bahasa kita, rahim. Siapa yang punya rahim? Hanya seorang ibu. Maka rahamin menunjukkan kasih seorang ibu. Allah dalam Kitab Yesaya 49:15, mengatakan, ‘Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.’ Maka Allah lebih dari seorang ibu, yaitu Maharahim,” lanjutnya.

Lantas dalam perjanjian baru, Injil Lukas disebut sebagai Injil belas kasih. Dalam Kidung Maria dan Kidung Zakharia diungkapkan bagaimana Allah berbelas kasih kepada manusia. Dalam Lukas 10:25-37 dikisahkan Orang Samaria yang murah hati. Dalam Lukas 15:11-32 ada perumpamaan anak yang hilang.

“Menceritakan anak yang meminta warisan orang tuanya, menghamburkannya, lalu menyesal dan balik, bahkan ia ingin menjadi hamba bapanya. Tetapi bapanya langsung menyediakan pakaian bagus, langsung datang memeluknya. Tanpa syarat apapun Tuhan akan mengampuni kita, asal kita mau kembali kepada-Nya!” katanya.

Akhirnya, kata Romo Giman, puncak dari kerahiman Allah ada di dalam peristiwa wafat Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya.

Lex orandi, dalam Tradisi Suci dan Magisterium adalah perayaan iman kita.

“Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik Dives in Misericordia. Gereja mengajarkan, bahwa kita harus mengakui dan mewartakan belas kasih dalam Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, Gereja harus murah hati.”

Lex vivendi diwujudkan seorang devosan Kerahiman Ilahi dalam slogan mereka.

“Salam ABC. Apa itu? Ask His mercy (memohon belas kasih Allah), be merciful (berbelas kasih kepada sesama), completely trust (percaya penuh kepada Allah),” kata Romo Giman.

Maka, katanya, komunitas Kerahiman Ilahi bukan berdasarkan doa saja, tapi berdasarkan be merciful, menjadi orang yang berbelas kasih.

“Jadi inilah yang harus kita hidupi sebagai devosan Kerahiman Ilahi.”

**Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.