Perayaan puncak 25 tahun imamat keenam imam SCJ dilangsungkan Minggu, (22/10) di Gereja Katolik Paroki Roh Kudus, Nelle, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur. Para imam pestawan, imam konselebran, dan para petugas liturgi berarak menuju altar diiringi tari kreasi daerah Maumere. Hari itu Ekaristi dihadiri lima orang pestawan, Romo F. A. Purwanto SCJ, Romo F. X. Kusmaryadi SCJ, Romo Christianus Hendrick SCJ, Romo Frans de Sales SCJ, dan Romo Yoseph Sutrisno Amirullah SCJ. Sedang seorang pestawan lain, Romo Yulius Sunardi SCJ, sudah pulang lebih dahulu.

Senyum sumringah terlihat jelas dari bibir pestawan. Merayakan perak imamat, Romo Purwanto, mengajak umat berbagi berkat.




Berbagi Berkat dalam Keluarga
“Kami datang dari keluarga sama seperti Anda, ketika nama kami disebut dalam doa bapak dan ibu, itulah kekuatan kami,” katanya mengawali homili di hadapan ratusan umat yang hadir.
Lantas Romo Pur, sapaan akrabnya, bertanya apakah mereka masih melestarikan tradisi doa bersama dalam keluarga malam hari. “Kalau bapak ibu biasa dengan YouTube. Siapa yang malam hari masih membaca Kitab Suci dalam keluarga?” tanyanya.
Romo Pur memberikan tips lima menit dalam sehari. “5 menit cukup. Diawali doa Bapa Kami, lalu membaca Injil, ditutup doa Salam Maria.”
“Saya sangat tersentuh pada bulan ini, Anda mengarak patung Bunda Maria, mengajak anak-anak untuk berdoa bersama. Baik bila Anda mengajak anak-anak berdoa bersama, membangun persaudaraan, itulah cara kita memberi berkat kepada anak-anak.”

Berbagi Berkat dalam Masyarakat
Tidak hanya dalam keluarga, Romo Pur juga mengajak umat yang hadir berbagi berkat kepada orang sekitar.
“Kalau marah yang keluar berkat atau kutuk? Sekarang kalau marah katakan. ‘Tuhan memberkati engkau’. Yesus bersabda, ‘berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.’ Saya kira baik berdoa litani,” katanya.
Doa litani, jelas Romo Pur, mengungkapkan kata-kata suci.
“Allah yang maharahim, kasihanilah kami. Allah yang Mahapengampun, kasihanilah kami. Ketika itu yang kita bicarakan, itu yang kita keluarkan adalah berkat. Dunia ini sudah panas, Maumere panas, Yogyakarta panas, ditambah mulut kita. Maka mendoakan litani adalah berkat,” tuturnya.
Berbagi berkat, lanjutnya, adalah cara bersahabat dengan antar anggota keluarga maupun sesama. Inilah yang mereka berenam hidupi selama 25 tahun. Lantas, mereka melantunkan doa Perjanjian Cinta kepada Hati Kudus Yesus, menyegarkan kembali cinta yang dulu pernah mereka ungkapkan kepada Kristus.








Arti Imamat untuk Umat Flores
Perayaan 25 tahun imamat telah disiapkan sejak awal tahun.
“Ketika Pak Fransu datang bertemu dengan saya di pastoran tentang syukuran 25 tahun Pater Frande (sapaan akrab Romo Frans) dan teman-teman, saya sangat senang,” kata Romo Albinus Rupa Pastor Paroki Roh Kudus.
Baginya dan umat, imamat adalah anugerah yang sangat berharga. Inilah yang menjadi alasan umat berpesta.

“Karena imamat itu yang menghidupkan Gereja kita. Dengan antusias saat itu saya langsung, ‘ayo kita rayakan bersama umat!’ Karena tanpa imam, Gereja ini mati,” katanya.
Melalui peristiwa ini, dia mengajak umat memberi perhatian khusus kepada imamat. Perayaan imamat, yang meskipun SCJ tidak hadir di Flores, menunjukkan ciri Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
“Kita tidak membedakan siapa-siapa dalam Gereja, apalagi imam. Kita merayakan Imam Agung Kristus sendiri, yang adalah sumber kehidupan. Inilah berkat (perayaan 25 tahun). Rahmat yang kita syukuri bersama dalam suasana kekeluargaan. Tuhan pasti memberkati kita. Selamat untuk para imam, bawalah berita dan pengalaman dari Nelle untuk tempat karya dari para imam, di manapun diutus,” kata Pater Albi dalam sambutannya.





Ketua panitia, Jemi Sadipun, memandang perayaan ini sebagai karya besar Allah.
“Kita bersyukur mereka (keenam imam) dapat menghempaskan dahsyatnya hembusan duniawi. Tapi lebih dari itu, semua ini dapat mereka lalui, karena mereka tetap berpegang teguh pada panggilan suci. Karena keteguhan ini, kami panitia (semangat) bekerja hingga puncak perayaan syukur,” katanya.

Dia juga berterima kasih kepada uskup, imam, biarawan-biarawati, aparatur pemerintahan dan keamanan, pastor paroki, pastor rekan, diakon, dewan pastoral, pengurus lingkungan, komunitas basis gerejawi, dan seluruh umat di Paroki Roh Kudus yang ambil bagian dalam kegiatan ini.




Kebanggaan yang sama juga diungkapkan Fransiskus Robi Idong, mewakili keluarga.
“Ini tidak gampang (setia selama 25 tahun). Kami merasa bahagia, senang. Romo Frans tidak sia-sia dulu pergi ke Malang (untuk kuliah sebelum menjadi imam), lalu sampai hari ini. Dan dia tidak sendirian, tapi bersama teman-temannya. Kami keluarga bangga. Dia (Romo Frans) banyak teman, bisa mempengaruhi yang lain. Tadi dipanggil bapak tua, berarti dituakan. Kami keluarga bahagia sekali. Kebersamaan 25 tahun imamat sangat luar biasa, bukan hanya lolos dari godaan-godaan, tapi isinya (esensi) dalam 25 tahun. Semoga seterusnya, (kesetiaan) tetap terjaga menjadi imam. Itu yang sangat kami butuhkan. Kita saling mendoakan,” tutupnya.

Fransiskus Robi juga menjelaskan mengapa banyak peristiwa di Flores harus dipestakan.
“Mengapa pesta? Karena baptis luar biasa, sambut baru (komuni pertama) luar biasa, apalagi imamat.”





Berbagai acara hiburan dipentaskan. Misalnya saja nyanyian dan tarian yang menghibur para tamu undangan bersantap siang. Acara puncak berlangsung dari pagi hingga sore hari.

** Kristiana Rinawati
