30 Langkah Menuju Kesucian (25)

Berpalinglah Pada Yesus Agar Dia Membimbingmu

Yesus adalah sahabat kita | Foto: Pinterest

Doa

Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat jiwaku,
Aku ingin hanya melakukan kehendak-Mu saja,
Aku akan bahagia bila tahu kehendak-Mu,
Dan tekun melaksanakannya! Amin.

Pengajaran

St. Fransiskus de Sales mengatakan bahwa “Yesus adalah sahabat setia. Ia pasti memimpin, membimbing dan memeliharamu. Bertanyalah kepada-Nya apa yang harus kalian perbuat! Jangan berbuat sesuatu tanpa bimbingan-Nya!” Dua hal yang perlu kita lakukan terus-menerus yaitu meminta nasehat-Nya, kedua mendengar dan menuruti nasehat-Nya.

Kita Mesti Mohon Petunjuk untuk Segala Sesuatu

Para orang kudus menyebut Yesus sebagai “terang kehidupan!” Sungguh sulit bila kita hanya mengandalkan kemampuan diri. Ini seperti orang buta yang berjalan sendiri – tanpa orang lain yang membantu dan menjaganya. Tentu kita bisa menemukan nasehat dari orang di sekitar kita, khusunya orang-orangnya Tuhan Yesus seperti imam atau orang bijak lain yang pasti rela menolong kita. Tetapi harus kita akui bahwa penasehat terbaik adalah Tuhan Yesus. Nabi Yesaya menyebut-Nya, “Penasehat Ajaib!” (Yes 9:6). Tuhan kita sendiri berkata kepada para rasul-Nya, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan!” (Yoh 13:13).

Ia tidak hanya mengajar atau menampilkan diri sebagai idola, tetapi “Ia sendiri adalah Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia!” (Yoh 1:9). Ketika matahari tidak bersinar, untuk berjalan di jalan atau lembah yang gelap, kita memakai penerang lain, apakah itu bulan atau lampu buatan manusia. Tetapi ketika Sang Raja bintang yaitu matahari terbit, penerang lain akan surut nyalanya bahkan tak akan berfungsi lagi. St Yohanes mengatakan bahwa jiwa-jiwa yang telah dikuduskan “tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya!” (Why 21:23).

Lampu yang menerang itu adalah Tuhanku Yesus Kristus yang memilihku untuk menjadi milik-Nya dan Ia berjanji selalu setia menjadi penasehat dan terang hidupku! Maka aku harus terus-menerus berkonsultasi kepada-Nya sebelum minta nasehat orang lain, dan tentu sebelum aku bertindak. Ia sendiri telah memberi contoh, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku!” (Yoh 5:30). Ia seperti anak manis, yang senantiasa taat kepada Bapa-Nya dan tergantung pada-Nya.

St Johana de F. Chantal berkata, “Ketika ada seseorang minta nasehat kepada Anda, jangan langsung Anda memberinya sebelum Anda masuk dalam diri Anda sendiri dan bertanya kepada Allah apa nasehat-Nya! Bisa jadi suatu saat Anda meminta nasehat kepada seorang imam atau seorang religius yang suci atau seseorang yang dikenal bijak, selama berbicara dengan mereka, kalian perlu refleksi terus-menerus sambil mendengarkan bisikan Yesus dalam hati Anda!”

Jika kita ingin tinggal bersama Yesus sebagai sahabat-Nya, kita harus sesering mungkin minta nasehat-Nya. Semakin kita minta nasehat-Nya, semakin kita menjadi dekat dengan-Nya. Maka marilah kita sesering mungkin berkonsultasi kepada-Nya khususnya bila kita dalam kesulitan hidup, atau dalam keraguan dan bahkan dalam menjalani pekerjaan rutin setiap hari. Bila kita mendekatkan diri terus-menerus dengan-Nya, kita akan menerima pencerahan daripada-Nya.

Hening dan Kesungguhan Hati!

Keheningan dan kesungguhan hati adalah dua kondisi yang penting agar kita bisa mendengar suara Tuhan Yesus, dan membuat kita memahami nasehat-Nya. Kita harus hening untuk mendengarkan; dan sungguh hati untuk mentaati nasehat-Nya. Prinsip yang diberikan St. Ignasius, “Roh buruk senantiasa berseru dengan suara lantang, teriak dan menimbulkan suara gaduh, itu tidak “membuat kebaikan!”. Sebaliknya roh baik, yaitu Roh Kudus senantiasa lembut dan damai; Ia berbicara lembut seperti angin sepoi-sepoi basa (lih 1Raj 19:12). Pere Tissot berkata, “Jika kita mendengar dua macam suara dalam diri kita, dan jika kita ingin tahu – suara mana yang harus didengarkan? Kita harus mendengarkan suara yang lembut dan halus! Itulah suara yang baik!”

Contoh, suatu hari Anda menerima surat yang isinya tidak sopan, mengatai-ngatai Anda yang tidak baik. Spontan hatimu panas! Emosimu bergerak dari hati ke bibir jika Anda tidak menahannya. Ingat, suara gemuruh itu adalah suara setan. Suara itu gemuruh seperti air yang mengalir di antara bebatuan. Bila Anda tidak bereaksi, akan muncul suara yang lembut, tenang dan mengajak Anda bertanya, “Untuk apa saya menanggapi surat itu? Mengapa aku harus tersinggung? Apakah aku tidak bisa belajar dari Yesus yang lemah lembut dan rendah hati? Apa yang harus aku lakukan? Itu adalah suara malaikat yang baik, suara yang menyentuh jiwa Anda dengan lembut dan jelas – seperti air yang menetes di atas spon!”

Suara kebenaran seperti itu yang harus kita dengarkan, dan jiwa kita akan tahu apa yang mesti dilakukan selanjutnya. Suara kebenaran akan menyatukan hati dengan Allah, dan membetengi kita dari agitasi yang datang dari luar, dan memisahkan kita dari hal-hal yang tidak berharga.

Bussuet mengajak kita, “Ambillah waktu untuk hening, biarkan Doktor jiwa berbicara kepada kita bagaimana kita dapat keluar dari keribetan hidup ini!” Ketika Allah sudah berbicara, kita harus memiliki tekad dan keberanian untuk mentaatinya. Jangan sampai seperti orang muda yang minta nasehat Yesus. Setelah mendengarNya, ”ia pergi dengan sedih karena banyaklah hartanya!” (Mat 19:22).

St Yakobus berkata, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja!” (Yak 1:22). Seringkali nasehat Allah sudah sangat jelas, tetapi kita tidak menjalankannya karena kita kurang berusaha, tidak berani berkorban dan takut gagal. Bila demikian “pijar terang sejati menjadi redup, kasih Allah dalam jiwa kita melemah dan semakin melemah!” Celakalah orang yang setengah hati, ragu-ragu dan tidak memiliki tekad kuat!

Sebaliknya jaminan akan diberikan secara sempurna total kepada mereka yang menjalankan nasehat Tuhan secara konsisten dalam setiap situasi hidupnya. Orang seperti ini terbentuk secara ketat dan kuat sebagai sahabat Tuhan Yesus; orang ini akan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan mendalam.

Bucket Rohani

“Dengarkan suara Guru Yang baik. Dia bertakhta di hatimu. Lakukan segala sesuatu seturut nasehat-Nya!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.