Paus Fransiskus menjawab dua pertanyaan tentang Sinode Sinodalitas, termasuk topik homoseksualitas, dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Italia RAI, Rabu (1/11).
Ditanya tentang diskusi sidang sinode mengenai homoseksualitas, Paus Fransiskus berkata:
“Ketika saya mengatakan ‘semua orang, semua orang, semua orang’, (saya sedang berbicara tentang) orang. Gereja menerima orang-orang. Setiap orang. Dan ia tidak menanyakan kabarmu. Kemudian, di dalam, semua orang bertumbuh, tetapi dari kepemilikan Kristiani.”
“Memang benar kalau saat ini agak ‘modis’ membicarakan homoseksualitas,” lanjutnya.
“Gereja menerima semua orang. Lain halnya ketika ada organisasi yang ingin masuk. Prinsipnya begini: Gereja menerima semua orang yang dapat dibaptis. Organisasi tidak dapat dibaptis. Orang bisa.”
Komentar Paus disiarkan dalam acara spesial berdurasi 40 menit dalam program berita “Tg1” pada 1 November.
Paus Fransiskus mengatakan hasil bagian pertama Sinode Sinodalitas, yang diadakan di Vatikan pada 4-29 Oktober, “adalah positif.”

“Semuanya dibicarakan dengan kebebasan penuh – dan itu adalah hal yang baik,” katanya.
Paus juga mengatakan laporan sintesis yang dikeluarkan pada akhir pertemuan selama sebulan “perlu dipelajari” sebelum pertemuan sinode berikutnya pada Oktober 2024.
“Saya yakin kita telah sampai pada penerapan sinodalitas yang diinginkan Santo Paulus VI pada akhir Konsili Vatikan Kedua, karena ia menyadari bahwa Gereja Barat telah kehilangan dimensi sinode yang dimiliki Gereja Timur,” tambah Paus Fransiskus.
Wawancara kepausan terbaru juga mencakup konfirmasi Paus Fransiskus bahwa ia akan melakukan perjalanan ke Dubai, di Uni Emirat Arab, pada 1–3 Desember, saat dimulainya konferensi perubahan iklim COP28.
Dia juga berbicara tentang perang, imigrasi, diakon wanita, dan kesehatannya.
Mengenai topik selibat para imam, Paus menegaskan kembali bahwa disiplin tersebut dapat diubah tetapi menurutnya penghapusan kewajiban selibat imam dalam Gereja Latin tidak akan membantu mengatasi kekurangan imam.
Paus Fransiskus juga memuji upaya Paus Benediktus XVI dalam memerangi pelecehan seksual yang dilakukan oleh para imam.
“Banyak pembersihan telah dilakukan di sini,” katanya.
“Paus Ratzinger berani dalam hal ini. Dia mengambil alih masalah itu ke tangannya sendiri dan mengambil banyak langkah lalu menyerahkannya kepada saya untuk diselesaikan. Ini terus berlanjut.” **
Hanna Brockhaus (Catholic News Agency)
