Bersukacita dengan Rendah Hati
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)
Doa
“Tuhanku dan Allahku.
Engkaulah sahabatku yang baik dan paling setia.
Setiap saat aku rindu berbagi sukacita denganMu.
Aku ingin menikmati sukacita bersamaMu,
Bernyanyi untuk melayaniMu,
Dan melayaniMu dengan bernyanyi sukacita!” Amin.

Pengajaran
Saya mengulangi kata-kata St Thomas tentang sukacita: “sukacita adalah situasi dan buah dari persahabatan yang benar!” Seseorang bisa disebut sahabat sejati kalau dalam hidupnya, ia bisa menikmati sukacita temannya.
Persahabatan kita dengan Tuhan Yesus akan membuahkan sukacita dan sekaligus kekudusan, serta keutamaan. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh 15:10). Mari kita merenungkan bahwa sukacita adalah pemberian Allah, dan bila kita bersukacita Hati Allah tersentuh untuk bersukacita pula.
Semua Keutamaan Berasal dari Allah
Kebaikan dan keutamaan yang kita miliki adalah sukacita jiwa, dan ini sungguh sukacita murni dalam Tuhan. Menjadi kudus artinya merasakan sukacita Ilahi dari Yesus; sukacita dari Yesus pasti membuahkan keutamaan hidup. Kualitas hidup seperti itu membuat Yesus bersukacita, dan Ia akan menularkan sukacita itu kepada banyak orang.
Dari dalam surga, Ia terus menyebarkan sukacita itu kepada sabahat-sahabatNya baik yang masih di dunia maupun yang sudah berkumpul di surga. Ia sangat bersukacita seperti ketika Ia dalam gendongan Bunda Maria, atau seperti ketika St Yohanes rasul menerima Maria sebagai ibunya di bawah salib, atau seperti ketika Ia menerima pengabdian murni dari Maria Magdalena.
Keutamaan yang kita miliki senantiasa menarik perhatianNya dan membuat HatiNya semakin terbuka untuk kita. Relasi positif ini tentu mendesak kita untuk semakin total dalam mempersembahkan diri kepada Tuhan Yesus.
Karena itu, betapa pentingnya kita berhati-hati dalam menikmati sukacita yang kita alami; kita harus sampai memiliki kesadaran penuh bahwa sukacita itu benar-benar kekayaan Hati Allah yang dicurahkan kepada kita. St Agustinus mengingatkan, “Semua keutamaan yang dimiliki oleh orang kudus adalah pemberian Allah. Jika seseorang menjadi kudus karena kesetiaannya dalam melayani Tuhan, dan dia berkata: ‘Aku bersyukur telah menjadi kudus,’ sikap ini adalah sebuah pengakuan jiwa yang rendah hati. Mengangkat hati kepada Allah atas kekudusannya bukan berarti menyaingi Dia yang adalah kudus. Tetapi kalau mengatakan bahwa saya kudus berkat jasa dan usahaku, ini adalah kesombongan.”
Sikap seperti ini justru menjadi bukti bahwa orang itu tidak kudus. Sikap seperti ini adalah sikap arogan, sikap yang tidak tahu berterimakasih terhadap rahmat Allah. Kita harus senantiasa sadar diri bahwa kalau kita memiliki keutamaan atau kekudusan pertama-tama bukan karena jasa kita tetapi pemberian Tuhan. Mengakui atau bersyukur atas keutaman yang kita miliki memang perlu, yaitu sebagai tanda kita berterimakasih, tetapi tidak bersikap sombong. Kita harus menikmati sukacita dengan tetap rendah hati.
Sukacita orang suci yang benar itu seperti seekor lebah. Ia mengeluarkan madu dengan diam dan dalam keheningan. Demikian juga seseorang pantas disebut kudus, ketika orang itu berbuat baik. Ia tidak berkoar-koar dan begitu dia berbuat baik, dia sudah melupakan kebaikannya itu. St Fransiskus de Sales berkata, “Pedoman umum berkata: bekerja dengan banyak omong itu tidak baik; sebaliknya bekerja dengan tenang dan diam, tidak banyak bicara itu baik!”
Keheningan adalah faktor penting untuk menjadi kudus. Para Kudus menghadapi banyak kesulitan dalam keheningan dan sendiri; mereka menikmati banyak waktu untuk refleksi dan mengolah diri. Mereka seperti belalang Tenggerek yang terus ‘menggerek’ dan tinggal dalam kesendirian. Sebaliknya induk ayam. Setelah mengeluarkan telor, ia berkotek keras-keras mengundang orang untuk segera mengambil telurnya itu. Perbuatan seperti itu tidak ada nilainya. Ini hanya memperkembangkan cinta diri belaka.
Sahabat Yesus yang sejati memiliki keyakinan yang pasti akan kasihNya, dan sadar betul bahwa Dia akan mengganjar kita di atas kebaikan kita asal kita bekerja dalam karya keselamatan dengan sabar dan tenang. Tatkala itu Tuhan akan memberi kedamaian yang mendalam untuk jiwa kita. Kita berproses menjadi kudus bila percaya total kepada kasih Allah – bekerja tanpa mengingat-ingat sampai level mana kesucian yang telah kita capai.
Seorang petani yang menabur benih gandum tidak akan setiap pagi mendukir tanah untuk melihat sejauh mana pertumbuhan benih itu, tetapi ia menunggu dengan sabar bersama sinar mentari yang menyinarinya dan hujan yang mengguyur untuk tumbuhnya benih gandum itu. Demikian juga kita berproses menjadi kudus cukup percaya penuh bahwa kita bekerja bersama Yesus dengan sukacita.
St Getrudis berkata, “Saya senantiasa bersikap seperti seorang ibu terhadap anak kecilnya. Ketika ia tidak bisa memberi perhiasan emas atau perak, ia akan merangkai bunga yang indah untuk dikalungkan di leher si anak ganti kalung emas. Ia berbuat apa yang bisa dilakukan demi cintanya kepada anaknya. Demikian juga terhadap Tuhan Yesus. Alangkah baiknya bila kita mempersembahkan apa yang kita miliki, apa adanya tanpa harus menakar seberapa bobot kebaikan kita; perlu kita serahkan juga penderita kita kepadaNya, Dia pasti melimpahkan belaskasihNya dengan tanpa batas!”
St Teresia mengingatkan kita, “Jiwa kita akan bertambah kudus dan kita semakin memiliki sikap siap sedia melayani Allah cukup dengan menyadari bahwa tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita menyenangkan hati Allah!”
Buchet Rohani
“Aku akan melayaniMu dengan nyanyian sukacitaku!”
Yohanes Haryoto SCJ
Baca juga: 30 Langkah Menuju Kesucian (27): Berpasrah pada Kehendak Allah
