30 Langkah Menuju Kesucian (27)

Berpasrah pada Kehendak Allah

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Doa

“Tuhan Yesus, Engkau tahu apa yang terbaik untukku.
Biarlah hal ini atau itu terjadi dalam hidupku sesuai kehendakMu.
Lakukanlah semua kehendakMu dalam diriku seturut rencanaMu,
Semua demi kemuliaan Allah Bapa!” Amin.

Berserah | Foto: Pinterest

Pengajaran

St Fransiskus de Sales mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini seperti mainan masa kecil. Mari kita ingat, ketika masih kecil, hidup di desa kita acapkali membuat rumah-rumahan dengan tiang dari cabang atau ranting-ranting pohon, atap dan dindinngnya dibuat dari daun kelapa atau ilalang. Terkadang dindingnya kita plester dengan lumpur. Semua itu kita lakukan dengan penuh antusias dan semangat. Sering menyita waktu berhari-hari.

Ketika sudah jadi kita senang masuk di dalamnya: tiduran atau duduk-duduk. Tetapi ketika hujan datang dan angin menerpa, rumah-rumahan itu runtuh, semua hancur berantakan. Tak jarang kita sedih bahkan menangis. Semua usaha kita terasa sia-sia! Seperti itulah segala sesuatu di dunia ini. Lain dengan rumah Bapa di surga. Rumah itu tidak pernah roboh. Tuhan Allah terus mengajak kita untuk menyadari hal itu dan mengharap agar kita memiliki rumah surgawi itu, yaitu hidup dalam kekudusan.

Thomas Kempis yang menulis buku Mengikuti Jejak Kristus berkata, “Semestinya semua ciptaan menjadi cermin kehidupan dan buku kekudusan!” Semua ciptaan Tuhan atau peristiwa hidup semestinya menuntun kita menuju kesatuan dengan Allah – menuju kesempurnaan hidup kita. Untuk itu, kita harus yakin bahwa Yesus hadir dalam setiap peristiwa hidup.

Yesus Hadir dalam Setiap Peristiwa Hidup Kita

Tidak jarang kita berpikir seperti seorang Ateis: yakin bahwa Allah hadir di tabernakel, tetapi tidak melihat kehadiranNya di dunia luas, atau dalam peristiwa kehidupan bersama atau bahkan tidak percaya bahwa Ia bertakta di hati kita. Sering kita tidak mampu menemukan Allah dalam segala sesuatu, padahal “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu!” (Yes 44:24). “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yes 45:7). Sesuatu tak akan ada kalau Allah tidak menghendakinya. St Ignasius berkata, “Tuhan Allah kita hadir dalam semua ciptaanNya. Ia hadir sebagai essensinya, hadir saat ini, present dan hadir sebagai kekuatan!”

Alangkah baiknya kalau kita meyakini hal itu, sehingga setiap saat kita bisa berwawan rembuk denganNya, bisa bermeditasi tentang Dia atau mungkin mempertanyakan tentang Allah itu sendiri. Dalam keseharian, kita kurang konsisten: ketika kita bermasalah atau menghadapi peristiwa yang gelap atau ketika hati kita sedang kacau atau pikiran sedang semrawut, kita tidak mampu melihat Allah yang sedang menyelenggarakan hidup kita.

Kita juga sulit menemukan Allah dalam peristiwa yang tidak kita kehendaki seperti ketika direndahkan, ditipu, atau ketika kita kesepian, merasa tak berguna. Walau kita sering menyebut peristiwa itu sebagai salib, namun kita tetap sulit menemukan Allah di dalamnya. St Ignatius mengingatkan kita, “Allah adalah baik justru karena Ia bertindak dan bekerja dalam setiap ciptaan dan peristiwa hanya demi aku sebagai pribadi!” Menurut St Ignasius, apapun yang terjadi dan menimpa diri kita, berada dalam ranah rencana Allah, apakah itu berupa perintahNya, atau hukumanNya atau seijinNya. Semua terjadi untuk kebaikan atau untuk kekudusan kita, seperti kata-kata St Paulus, “…inilah kehendak Allah: pengudusanmu…!” (1Tess 4:3).

Baiklah bila kita selalu ingat bahwa Penyelamat kita Yesus Kristus hidup di dunia ini untuk pribadi lepas pribadi dan Ia terus hadir dalam diri kita agar kekudusan terwujud dalam hal-hal kecil hidup kita. Ia menginginkan agar apa yang telah Dia lakukan, yaitu melakukan kehendak Allah Bapa dalam segala hal terjadi juga dalam diri kita: apakah kita sedang sakit, atau bergolak, atau dicobai atau sedang dalam kesulitan dan dalam masalah lainnya!

Setiap peristiwa yang menimpa kita, harus kita hayati dalam semangat ketaatan Sang Penyelamat kepada Allah Bapa. Oleh karena itu, hanya ada satu sikap yang tepat yang harus kita miliki, yaitu mempersembahkan diri atau menyangkal diri, melepaskan semua kemauan pribadiku seperti Yesus di salib atau Yesus dalam Ekaristi. “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:8).

Tatkala kita menerima semua peristiwa yang menimpa kita dengan sikap taat seperti Yesus, saat itu kita memuliakan Allah dan membiarkan Dia menuntun dan memimpin kita untuk semakin mencintaiNya. Seekor burung kecil tahu dengan parungnya, ia membuka kulit padi untuk memakan berasnya dan membuang cangkangnya. Mengapa kita mudah bertindak bodoh: membungkus diri dengan kamauan diri sendiri dan akhirnya kita kehilangan nilai yang luhur serta kasih Allah!.

St Fransiskus de Sales memberi nasehat, “Aku ingin memberi kunci jawaban atas teka teki kehidupan. Tujuan hidup adalah kesempurnaan. Itu harus kita pegang teguh. Untuk mencapai tujuan itu: temukan kehendak Allah, lakukan itu dengan sukacita atau paling tidak dengan semangat, dan cintailah kehendakNya itu!” Hati Kudus Yesus yang penuh kasih mengatur semua peristiwa hidup agar jiwa kita menikmati kasihNya tanpa batas!

Bucket Rohani

“Tuhan, jadilah kehendakMu pada diriku, dan aku akan melakukan dengan sukacita agar semakin mencintaiMu!”

Yohanes Haryoto SCJ

One thought on “30 Langkah Menuju Kesucian (27)

Leave a Reply

Your email address will not be published.