Paus Fransiskus mendesak para pemimpin global untuk mendorong perdamaian di Sudan dan Mozambik utara, tempat misi Katolik dibakar.
“Di mana pun terjadi pertempuran, masyarakat akan kelelahan, bosan dengan perang, yang selalu tidak ada gunanya dan tidak meyakinkan, dan hanya akan membawa kematian, kehancuran, dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.”
Paus Fransiskus meluncurkan seruan itu Minggu (18/2) setelah berdoa Angelus bersama para peziarah di Lapangan Santo Petrus.

Paus mengenang bahwa 10 bulan telah berlalu sejak konflik pecah di Sudan, yang menyebabkan situasi kemanusiaan yang serius.
“Saya sekali lagi meminta pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan perang ini, yang menyebabkan banyak kerugian bagi rakyat dan masa depan negara,” ujarnya.
“Mari kita berdoa agar jalan menuju perdamaian segera ditemukan untuk membangun masa depan Sudan.”
Kekerasan Berkobar di Mozambik Utara
Paus Fransiskus menyesalkan meningkatnya “kekerasan terhadap masyarakat yang tidak berdaya, kehancuran infrastruktur, dan ketidakamanan yang meluas” di wilayah utara Cabo Delgado di Mozambik.
Ia mencatat bahwa misi Katolik Bunda Maria dari Afrika di Mazeze dibakar.
Menurut Oliveira Amimo, administrator distrik Chiúre di Mozambik, penyerang bersenjata menghancurkan kapel Katolik dan beberapa rumah penduduk.
“Mari kita berdoa agar perdamaian kembali ke wilayah yang tersiksa itu,” kata Paus.
Beliau juga berdoa bagi orang-orang yang menderita akibat konflik di negara lain di benua Afrika, serta di Ukraina dan Tanah Suci.
Perang, kenangnya, “selalu merupakan kekalahan.”
“Mari kita berdoa tanpa kenal lelah,” Paus Fransiskus menyimpulkan, “karena doa itu efektif, dan marilah kita memohon kepada Tuhan karunia pikiran dan hati yang didedikasikan secara konkrit untuk perdamaian.”
Penderitaan Terus Berlanjut di Sudan
Meskipun ada upaya untuk mengakhiri konflik brutal di Sudan, pertempuran masih terus terjadi di negara tersebut.
Sudan telah menyaksikan bentrokan bersenjata brutal antara tentara Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat ––atau RSF –– sejak April 2023, dan kedua belah pihak saling menuduh sebagai pemicu konflik.
Kini, militer Sudan ––atau SAF––telah maju ke Omdurman untuk pertama kalinya sejak perang dengan paramiliter RSF meletus.
Omdurman dianggap sebagai kota kembar ibu kota Sudan, Khartoum, yang terletak di seberang Sungai Nil.
Pada hari Minggu, laporan dari negara tersebut menunjukkan bahwa SAF telah bergabung dengan rekan-rekan mereka di korps teknik di selatan kota, di mana mereka telah dikepung oleh RSF selama sepuluh bulan terakhir.
Bentrokan di Sudan telah menyebabkan lebih dari 25 juta orang bergantung pada bantuan kemanusiaan dan delapan juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, termasuk 1,6 juta orang yang mengungsi ke negara lain.
Upaya Perdamaian
Pekan lalu, Utusan Pribadi Sekretaris Jenderal PBB untuk Sudan memulai upaya baru untuk mencoba mengakhiri pertempuran.
PBB mengatakan Ramtane Lamamra berusaha memperkuat koordinasi multilateral seputar upaya politik dan mediasi, bekerja untuk mendukung dan bermitra erat dengan Afrika dan mitra regional dan internasional lainnya.
Diplomat tersebut telah memulai kunjungannya ke sejumlah ibu kota utama di Tanduk Afrika, Eropa, dan Teluk dalam upaya meluncurkan kembali proses politik.
PBB sebelumnya mengatakan situasi yang memburuk ini berdampak negatif pada negara-negara tetangga, yang banyak di antaranya sedang mengatasi krisis mereka sendiri. **
Devin Watkins/Nathan Morley (Vatican News)
Diterjemahkan dari: Pope prays for Sudan, northern Mozambique as Catholic church attacked
Baca juga: Bacaan Liturgi Senin, 19 Februari 2024

One thought on “Paus Berdoa untuk Sudan dan Mozambik Utara ketika Gereja Katolik Diserang”