Dentuman musik Gong Gendang atau Laba Go dan Tarian Jai (kesenian tradisional Bajawa) menggema di batas Paroki Maria Ratu Semesta Alam, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/6). Sore itu, ratusan umat Keuskupan Agung Ende bersyukur bersama keempat yubilaris atas imamat dan hidup membiara mereka. Keempat orang itu adalah RD Emmanuel Belo Sede, Sr. M. Stefany FCh, Sr. Antonia Benedikta Sede OSU, dan Sr. Merianci USS.

Dalam kesempatan yang sama hadir pula Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono; Uskup Agung Emeritus Mgr. Aloysius Sudarso SCJ; Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC; lebih dari 30 imam diosesan Keuskupan Agung Palembang, dan puluhan umat Keuskupan Agung Palembang.
Sa Ngaza adalah upacara penjemputan keempat yubilaris dan rombongan. Mereka diarak dari batas Paroki Maria Ratu Semesta Alam hingga Kampung Rumah Adat Sao Jawa Lina. Sekitar tiga kilometer, mereka menaiki kendaraan bak terbuka. Mereka singgah di gereja paroki untuk mengadakan ibadat menyongsong pesta yang akan dilangsungkan hingga Jumat (21/6). Setelah itu, mereka menuju rumah adat milik keluarga besar Romo Eman. Di sana mereka menyelenggarakan upacara adat.



Romo Eman, Suster Stefany, Suster Antonia, dan Suster Merianci memasuki rumah adat. Mereka duduk di tingkat paling atas rumah adat untuk bersiap melakukan ritual Zi’a Ura Ngana atau persembahan kepada leluhur.
Sayup-sayup terdengar teriakan suara seekor babi. Babi diseret ke depan Rumah Adat Sao Jawa Lina. Di sanalah persembahan kepada leluhur dilakukan. Setelah membacakan doa adat, beberapa sabetan parang dijatuhkan ke tengah-tengah kepala babi. Darah yang keluar dioleskan pada tangan para yubilaris. Lalu hati babi diambil, dimasak, dan dimakan bersama keluarga. Babi dalam budaya Bajawa adalah hewan kurban. Santap malam dan Tarian Jai mengakhiri kegiatan malam itu.

Keesokan harinya, Jumat pagi (21/6) dirayakan Ekaristi di Kampung Langagedha. Syukur atas panggilan-Mu Tuhan adalah tema yang diusung dalam Ekaristi syukur ini. Uskup Mandagi dalam homilinya mengungkapkan perasaannya terhadap Romo Eman, yang merayakan 30 tahun imamat.
“Saya datang karena hormat dan sayang kepada Pastor Eman ini,” katanya disambung tawa lebih dari dua ribu umat.
Kepada para biarawan-biarawati dia menasihati mereka untuk setia menghidupi tiga kaul, ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan. Kepada para imam, dia mengingatkan agar mereka selalu beriman.
“Pastor Eman memang muka beriman betul. Muka beriman bukan muka kudus sekali. Muka beriman membawa sukacita dan kegembiraan. Pastor Eman ini beriman. Dia bisa mencapai 30 tahun sebagai imam karena ada iman,” katanya.

Mengutip Kitab Yesaya, syarat beriman kata Mgr. Mandagi adalah sadar akan keberdosaan dan rendah hati. “Kita sulit beriman karena tidak sadar akan dosa, memandang diri suci, sehingga lupa akan Tuhan.”
Iman harus dipelihara, kata Mgr. Mandagi. Pemeliharaan ini dapat dilakukan dengan berdoa. “Para imam kuat dalam imamatnya kalau senantiasa berdoa, merayakan Ekaristi dan membaca firman,” katanya.
Menutup homilinya, ia mengingatkan relasi yang harusnya dikembangkan oleh para imam. “Dekat dengan uskup, sesama imam, dekat dengan umat.”
Pertama, para imam harus mendengarkan Tuhan. “Cuma dalam Tuhan mereka kuat, kalau mau jadi imam masa depan yang luar biasa. Kedua, berjalan bersama dengan uskup, sesama imam, dengan umat. Imam masa depan akan muncul bila imam itu menjadi Sakramen.”
**Kristiana Rinawati
