Demo bohlam pijar 100 watt menarik perhatian lebih dari seratus peserta Hari Pangan Sedunia (HPS) Keuskupan Agung Palembang. Sabtu, (12/10) Sr. Marisa Nur Trisna CB dari Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia Bidang Spiritualitas Lingkungan Hidup, memberikan refleksinya atas tema HPS 2024: Cipta dan Cinta Bumi Serta Pangan Sehat.
Biarawati asal Palembang ini mengawali pemaparannya dengan memperkenalkan konsep sederhana mengenai hubungan antara organisme hidup dan listrik. Ia menjelaskan bahwa sebuah bohlam pijar 100 watt bisa menjadi alat deteksi standar untuk membedakan antara bahan organik dan non-organik. “Jika lampu menyala, berarti bahan tersebut organik,” paparnya. Alasannya karena mikroba menghasilkan ion positif dan negatif yang dapat dialiri listrik. Prinsip ini menggambarkan bagaimana kehidupan, termasuk diri manusia, terhubung dengan aliran elektrolit.

Hidup Selaras dengan Alam
Melalui demo ini, Suster Marisa CB menekankan pentingnya merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Bahkan dia menegaskan konsekuensi yang akan terjadi ketika manusia ‘meracuni’ bumi. Bumi yang ‘teracun’ akan memberikan ‘racun’ sebagai makanan kepada manusia. ‘Meracuni’ bumi maksudnya ketika manusia mengolah tanah dengan memakai pupuk an-organik, yang dapat merusak tanah.
“Petani adalah mitra Allah dalam memberi makan umat manusia,” kata Sr. Marisa. Jika petani memberi makanan sehat, dengan menggunakan pupuk organik, bumi akan merespon dengan kebaikan yang sama. Bumi yang sehat akan memberi hasil panen yang sehat pula, menciptakan kebahagiaan untuk seluruh ciptaan. Namun kenyataannya, bumi saat ini sedang sakit.
Sr. Marisa mengingatkan bahwa kesakitan alam adalah kesakitan Allah, Sang Pencipta. “Alam tidak membutuhkan manusia, tetapi manusia sangat membutuhkan alam,” ujarnya. Ia suasana panas yang terjadi di hijaunya Bumi Tegal Arum. Ini karena ditanamnya pohon jati emas. Jadi meskipun terlihat hijau, dapat menyebabkan lingkungan menjadi panas karena menyerap banyak air. Ia menyarankan agar ditanam gayam dan beringin yang membantu menyeimbangkan ekosistem.

Menjadi Petani Berdaulat
Trisula relasi ditawarkan Sr. Marisa CB guna menjadi manusia ekologis. Maksudnya adalah memupuk relasi yang benar dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan. Hal ini sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, melalui ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si.
Dalam usahanya menjaga kelestarian alam, Sr. Marissa bersama timnya mengembangkan Formula M. Formula M ini adalah pupuk cair yang dapat dibuat dalam 48 jam. Formula M menurutnya, memungkinkan tanaman bertahan tanpa penyiraman hingga tiga hari. Ini cocok di musim kemarau.
Produksi Formula M dapat menjadi solusi para petani untuk mandiri, tanpa bergantung dengan pupuk orang lain. “Petani harus berdaulat dalam pertaniannya, menghasilkan pupuk sendiri,” katanya.
Sr. Marisa menekankan pertanian organik bukan sekadar soal keuntungan ekonomi, tetapi soal keadilan dan keberlanjutan. Ia mengajak para petani untuk mencintai kehidupan dan menjadi pelindung alam melalui praktik pertanian yang ramah lingkungan. Ketika manusia rakus dan mengambil lebih dari yang dibutuhkan, ekosistem menjadi tidak seimbang. Sebaliknya, dengan berbagi hasil panen dengan hewan, seperti meninggalkan sedikit singkong di ladang untuk tikus, keseimbangan alam akan terjaga.
Ini juga termasuk tanah. Ia percaya, dengan menghidupkan kembali tanah melalui mikroorganisme dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, kita dapat menciptakan sistem pertanian yang harmonis dengan alam, di mana tanah tidak hanya memberi makan tanaman, tetapi juga merawat keseimbangan ekologi yang lebih besar.
“Tanah adalah Roh Kudus yang memberi kita makan,” kata Sr. Marissa. Sebagai penutup, ia mengajak kita semua untuk lebih bijak dalam menjaga bumi melalui makanan yang kita konsumsi, demi keberlangsungan ciptaan dan kesejahteraan semua makhluk.
**
