Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) Keuskupan Agung Palembang tahun 2024 diselenggarakan di Tegalarum, 12-13 Oktober. Dalam kegiatan ini hadir perwakilan paroki-paroki di Keuskupan Agung Palembang, para pegiat ketahanan pangan, biarawan/biarawati, kelompok tani lingkungan Tegalarum, Dinas ketahanan pangan Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ulu Timur. Disampaikan oleh Paulus Sumarno sebagai ketua panitia, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran umat dan masyarakat akan pelestarian sumber daya pangan dan olah tani yang sehat.
“Semoga melalui kegiatan ini, kita semua dapat menyalakan api pertobatan ekologi yang konkret,” katanya.

Bersama Komisi PSE Keuskupan Agung Palembang, Panitia Perayaan Hari Pangan Sedunia menetapkan tema “Cipta dan Cinta Bumi serta Pangan Sehat”. Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Palembang, Rm Laurentius Rakidi mengatakan bahwa manusia sebagai murid Kristus memiliki kewajiban untuk memberi makan orang-orang yang membutuhkan. Di tengah maraknya bahan makanan yang mengandung zat kimia yang tentu bisa merusak kesehatan, kita mesti berhati-hati.


“Dengan tema ini, intinya mengajak kita untuk menyadari keberadaan bumi kita yang sudah rusak dan tercemar. Kita juga diajak mengatasi lahan yang sudah rusak supaya sehat dan menghasilkan makanan serta lingkungan hidup yang sehat.”
Untuk semakin menguatkan refleksi umat tentang HPS, hadir pula Romo Aegidius Eko Aldilanta, O.Carm sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi PSE KWI. Romo Eko mengingatkan bahwa manusia yang hidup dari alam mesti merawat alam.

“Sebagai orang beriman, hargai martabat manusia dalam hal ini tubuh kita sebagai ciptaan Allah. Kita syukuri (martabat manusia) dengan cara merawat tubuh, karena HPS lebih pada dipanggil untuk merawat tubuh sebagai ciptaan Allah dan gambar Allah.”
Dinas ketahanan pangan OKU pun turut serta mengingatkan kesadaran akan pentingnya kesediaan pangan yang cukup. Pihak Dinas memberi apresiasi pada panitia HPS Keuskupan Agung Palembang yang telah berkontribusi merayakan HPS. Mereka berharap agar kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas semata tapi momentum untuk berinovasi terkait pangan.
Kegiatan HPS ini pun didukung penuh oleh Keuskupan. Rm Yohanes Kristianto Pr selaku Vikjen Keuskupan Agung Palembang mengatakan bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab dan tugas semua manusia.
“Mudah-mudahan bukan hanya kegiatan dua hari, melainkan sebuah gerakan. Semoga kita semua termotivasi dan nanti kembali ke rumah masing-masing dengan niat membuat gerakan. Tidak perlu dalam skala besar, misalnya bisa dimulai dari pertobatan pribadi keluarga masing-masing. Mari bersinergi dengan pemerintah, lembaga, dan kelompok pegiat agar gerakan ini terus berlanjut.”
Acara dibuka dengan pemukulan gong oleh perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Ogan Komering Ulu.

Jaga Tubuh sebagai Wujud Syukur atas Ciptaan Allah
Seminar dibuka dengan pemaparan dari Romo Eko. Beliau memaparkan tentang prinsip dan nilai yang mesti diingat untuk bisa menjalankan kedaulatan pangan. Dalam konteks sosial, gereja merawat bumi sebagai ibu yang memberi kehidupan. Gerakan HPS di Gereja Katolik dilihat sebagai ajakan untuk merawat ibu bumi tempat tumbuh tanaman menjadikan kita sehat. Semoga dengan HPS gerakan-gerakan di Keuskupan Agung Palembang semakin mensejahterakan masyarakat, mengembalikan martabat manusia, dan semua umat memiliki kedaulatan pangan.
Prinsip nilai kedaulatan pangan adalah martabat manusia, kesejahteraan umum, solidaritas, keberpihakan pada kaum miskin, dan dimensi ekolgis integral yang meyakini bahwa bumi ciptaan Allah adalah ‘rumah kita bersama’. Selain itu, Romo Eko juga mengingatkan tentang prinsip ekonomi kedaulatan pangan.
“Ekonomi mesti didukung untuk memenuhi kebutuhan pangan. Alam memberi kehidupan untuk menopang kehidupan manusia. Semua bermuara pada manusia. Maka manusia dipanggil untuk mengelola lingkungan,” paparnya.
Selain itu, dalam kedaulatan pangan ada nilai-nilai yang mesti dibawa seperti kebenaran, keadilan, kebebasan, dan cinta kasih. Ketika tanah mati, kehidupan menjadi mati. Jika bumi sebagai ibu kita tercemar, maka manusia ikut tercemar.
“Manusia diharapkan untuk tidak sekedar bisa memproduksi pangan, tapi membawa nilai-nilai ini juga. Kita bekerja sebagai gereja dengan spirit yang sama, meski gerakannya beda.”
Lewat sisi spiritual, gerakan HPS dalam gereja Katolik adalah bagaimana kita menerjemahkan kembali firman Allah. Dari sisi Allah, Allah menyatakan kebaikan, kasih, pengampunan, dan keadilan-Nya lewat bumi. Manusia melihatnya sebagai Allah yang ingin membebaskan manusia dari belenggu dosa dan menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memberi perintah namun juga jalan.
“Gerakan HPS bukan soal bahan pertanian, UMKM, yang paling mendasar adalah mengaktualkan ekaristi; roti yang dibagi-bagi untuk memberi keselamatan bagi manusia. Maka makanan yang diberi adalah makanan yang sehat. Tema HPS itu, kamu harus memberi makan. Namun bagaimana kita menghargai martabat manusia jika bukan makanan sehat yang kita beri?” ujar Romo Eko.
Maka Romo Eko mengajak umat untuk mengenali ciri spiritualitas inkarnasi ini sebagai pengalaman yang diolah dalam menemukan hal-hal baik dari akal budi kita untuk mengelola bumi ini. Manusia diberi akal budi untuk menjawab. Tidak cukup dengan kontemplasi, tapi bagaimana kita menjawabnya.
“Gerakan merupakan muara dari doa dan kecerdasan. Maka tidak boleh hanya 2 hari selesai. Harus menjadi habitus, kebiasaan. Mengapa harus makan makanan sehat? Untuk mensyukuri tubuh kita yang merupakan ciptaan Allah.” tegasnya.



Budidaya Berkelanjutan Ramah Lingkungan
Dalam sesi selanjutnya, Dinas Pertanian OKU Timur memaparkan sistem budidaya berkelanjutan ramah lingkungan. Kebijakan pemerintah yang diharapkan saat ini adalah banyak generasi muda yang peduli pada lingkungan dan keberlanjutan dunia ini seperti apa. Masyarakat diimbau untuk mencari cara memanfaatkan bumi dan hasil bumi untuk kesejahteraan manusia.
Di zaman modern ini, manusia hidup berdampingan dengan teknologi. Dalam semua aspek, teknologi berperan secara masif, termasuk pertanian. Dampak positif dan negatif kemajuan teknologi terutama di bidang pertanian juga menjadi perhatian bagi Dinas Pertanian.

Dinas Pertanian OKU Timur menegaskan tentang sistem budidaya berkelanjutan sebagai pertanian yang berlanjut untuk saat ini dan yang akan datang. Artinya, hal ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang menguntungkan secara ekonomi dan aman bagi lingkungan.
Lewat sistem budidaya berkelanjutan ini, pertanian dapat dipertahankan dan kesuburan tanah ditingkatkan sehingga hasil bumi juga optimal dan bisa meningkatkan kesehatan manusia yang mengonsumi.
“Setelah mengenal zat-zat berbahaya yang ada di pupuk pertanian, kita bisa melakukan sistem budidaya berkelanjutan ini. Pertanian tetap ada manfaat bagi semua dan tidak menimbulkan bencana. Bagaimana menciptakan habitat pertanian yang nyaman? Bisa menggunakan bakteri mikroba untuk dilestarikan.”
Usai seminar, para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok untuk melihat praktek dan demo pembuatan pupuk organik, pameran makanan sehat, dan pengolahan limbah.
** Maria Sylvista
Baca juga: Siswa Katolik Paroki St. Gregorius Agung Berproses Menjadi “Anak-anak Allah yang Berbahagia”
