Perjalanan Kasih: Kisah Perjalanan Imamat Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ

Minggu (20/20), sebuah kepulangan istimewa terjadi di Paroki St. Gregorius Agung, Jambi. Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ, seorang imam baru yang ditugaskan di Gereja St. Barnabas, Pamulang, Keuskupan Agung Jakarta, kembali ke tempat, di mana perjalanannya bermula untuk merayakan Misa perdananya. Bagi umat Paroki Gregorius Agung, terutama kaum muda, ini lebih dari sekadar misa. Ini adalah reuni penuh kehangatan dengan sosok yang mereka kenal sebagai frater top beberapa saat lalu.

Misa perdana Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ Minggu, (20/10) di Gereja Paroki St. Gregorius Agung, Jambi | Foto: Dokumentasi Pribadi

Bukan tanpa alasan Romo Yuvens dikasihi orang muda. Kepribadiannya yang ramah, hangat, dan mudah didekati, itulah yang melahirkan kesan mendalam.

Misa perdana Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ Minggu, (20/10) di Gereja Paroki St. Gregorius Agung, Jambi | Foto: Dokumentasi Pribadi

Dalam misa perdana ini, Romo Yuvens berbagi kesaksian pribadinya tentang panggilan yang membawanya ke kehidupan imamat.

“Memilih menjadi seorang imam adalah ungkapan rasa syukur saya kepada Tuhan. Berkali-kali Tuhan menyelamatkan hidup saya, dan saya sadar bahwa hidup itu hanya sekali. Harus mencari sesuatu yang luar biasa, dan bagi saya, imamat adalah pilihan yang luar biasa,” ungkapnya.

Misa perdana Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ Minggu, (20/10) di Gereja Paroki St. Gregorius Agung, Jambi | Foto: Dokumentasi Pribadi

Romo Yuvens dengan jujur mengakui kerapuhan dan ketidaksempurnaannya sebagai manusia, namun justru dalam keterbatasan inilah ia menemukan kekuatan dari panggilan Tuhan.

“Saya sangat kagum dan bangga kepada Allah yang penuh kasih. Meski saya merasa tidak layak, Allah tetap memanggil saya untuk menjadi imam-Nya,” katanya dengan penuh syukur.

Bagi Romo Yuvens, menjadi imam adalah wujud terima kasihnya kepada Tuhan. Peneguhannya sebagai seorang imam adalah tanda rasa syukurnya atas keselamatan dan berkat yang telah diterimanya berkali-kali. Dengan mengambil peran sebagai imam, ia merasa turut ambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan.

“Menjadi imam bukan satu-satunya cara untuk melayani, tetapi bagi saya, ini adalah peran yang menarik dan telah mengisi hati saya,” ungkapnya dengan tulus.

Misa perdana Romo Yuvens menjadi perayaan kebersamaan. Siswa-siswi dari SD Xaverius 2 turut meramaikan acara dengan menyanyikan lagu-lagu yang indah, sementara awam Dehonian juga ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut.

Dalam homilinya, Romo Yuvens juga menyinggung soal makna pelayanan dalam iman Kristiani.

“Pelayanan adalah ungkapan iman kita di hadapan Tuhan. Apakah kita diperhatikan atau diabaikan, tidak masalah. Apa yang kita berikan adalah ungkapan bahwa kita dicintai oleh Tuhan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pelayanan bukanlah relasi transaksional, melainkan ungkapan syukur atas cinta Tuhan.

“Saya mengundang semuanya untuk mengambil peran. Jadilah keluarga yang baik, ibu yang baik, anak-anak yang baik, yang dapat membawa dampak positif bagi gereja dan masyarakat,” ajaknya kepada seluruh umat. 

**Lisbet Theresa Pakpahan

Baca juga: Bacaan Liturgi Senin, 21 Oktober 2024

One thought on “Perjalanan Kasih: Kisah Perjalanan Imamat Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.