“Kesetiaan dalam Kebenaran”

Injil hari ini membawa kita kepada kisah tragis tentang kematian Yohanes Pembaptis, seorang nabi yang dengan berani menyuarakan kebenaran meskipun harus membayar harga mahal: hidupnya sendiri. Yohanes menegur Herodes karena perbuatan yang tidak benar, yakni mengambil Herodias, istri saudaranya, sebagai istri. Tindakan ini bukanlah sekadar kritik sosial, melainkan seruan profetik untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam dunia yang sering kali lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran, keberanian Yohanes menjadi teladan yang relevan bagi kita semua.
Herodes, meskipun tahu bahwa Yohanes adalah orang benar dan suci, tetap membiarkan dirinya dikendalikan oleh hawa nafsu, gengsi, dan tekanan dari orang-orang di sekitarnya. Ia takut kehilangan muka di depan para tamunya dan akhirnya mengorbankan Yohanes. Ini mengingatkan kita bahwa kerap kali dosa tidak terjadi dalam sekejap, tetapi melalui kompromi kecil yang berulang dan dibiarkan terus-menerus. Herodes bukan hanya gagal sebagai pemimpin, tetapi juga gagal sebagai pribadi yang tak mampu menahan tekanan moral.
Herodias dan anak perempuannya pun menjadi simbol dari kejahatan yang dibungkus dalam kemewahan dan hiburan. Tarian yang tampaknya menghibur justru membuka jalan bagi pembunuhan seorang nabi. Betapa sering kita, dalam kehidupan sehari-hari, tidak menyadari bahwa hal-hal yang tampaknya “biasa saja” justru dapat menumpulkan kepekaan nurani kita terhadap kebenaran dan keadilan.
Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa hidup dalam kebenaran bukan berarti bebas dari penderitaan. Namun penderitaan yang timbul karena kesetiaan pada Tuhan adalah penderitaan yang berharga. Ia hidup bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk menyenangkan Allah. Ia kehilangan nyawanya, tetapi ia tidak kehilangan integritas dan panggilannya. Dunia boleh membungkam suara Yohanes, tetapi suaranya tetap bergema hingga kini—sebagai suara hati nurani yang berseru: “Luruskanlah jalan bagi Tuhan!”
Kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi kebenaran seperti Yohanes. Dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan kerja, kita diundang untuk tidak diam terhadap ketidakadilan, untuk tetap setia meskipun sulit. Kiranya keberanian dan keteguhan Yohanes menjadi inspirasi bagi kita, agar hidup kita menjadi suara yang menggemakan kasih dan kebenaran Tuhan di dunia ini.
Mari bermenung, Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
