
“Kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan. Namun ada juga oknum-oknum tertentu yang menyalahgunakannya. Oleh sebab itu, sebagai pengguna media komunikasi mari kita gunakan untuk membagikan yang baik, menggunakannya sebagai sarana untuk membangun bukan menyalahgunakannya. Kita harus bijaksana dalam menggunakan media komunikasi”. Hal ini disampaikan oleh Pastor Kepala Paroki St. Yoseph Palembang, RD. Hyginus Gono Pratowo, dalam sambutannya membuka kegiatan seminar yang diadakan di Aula Serbaguna Paroki St. Yoseph Palembang pada Sabtu (2/8/2025) siang.

Seminar bertajuk Menemukan Makna dan Manfaat AI dalam Kehidupan Sehari-hari dan Menggereja ini merupakan hasil kolaborasi antara Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) DPC Kota Palembang dan Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yoseph Palembang bersama Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC), WKRI Cabang St. Yoseph, PMKRI Palembang, Pemuda Katolik, serta Seksi Multi Media dan OMK Paroki St. Yoseph Palembang.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian hadir dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari dunia kerja, pendidikan, hingga spiritualitas. Meski demikian, pemahaman umat Katolik terhadap makna dan manfaat kecerdasan buatan masih sangat terbatas, terutama dalam konteks kehidupan menggereja.
Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini adalah tiga narasumber berpengalaman di bidang teknologi informasi, yaitu Ketua DPD ISKA Sumatera Selatan, Yoseph Handoko; dosen Informatika UKMC, Latius Hermawan; dan dosen Sistem Informasi UKMC, Stefanus S. Wibagso. Seminar yang dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai kalangan, antara lain anggota WKRI, OMK, pegiat media sosial, seminaris, dan pengurus lingkungan ini diharapkan menjadi ruang edukatif dan reflektif bagi seluruh umat sekaligus menjadi wadah dialog antara iman dan ilmu pengetahuan di era digital.
Dalam paparannya, sebagai praktisi teknologi informasi, Yoseph Handoko mengingatkan bahwa siapa pun yang tidak menggunakan kecerdasan buatan bisa tertinggal. Namun ia juga menyoroti berbagai tantangan etis dari teknologi ini, seperti rasis, bias lokasi, salah diagnosa dalam dunia kesehatan, perihal hak cipta, generalisasi, ketaatan semu atau terlihat taat padahal menyimpang, white lies atau menyembunyikan kesalahan, dan tidak terkontrol. Ia mendorong Gereja untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam pelayanan dan pengembangan kemampuan umat, namun dalam hal ajaran iman, Gereja tidak boleh tergantung pada kecerdasan buatan, melainkan tetap mengkolaborasikan dengan sumber asli yang terpercaya.

Sementara itu, Latius Hermawan menegaskan bahwa kecerdasan buatan adalah alat bantu bukan pengganti manusia.
“AI itu pintar, tapi tidak akan sempurna tanpa campur tangan manusia. AI adalah bagian dari masa depan, tetapi kitalah yang menentukan masa depan”, tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar manusia tidak menjadi terlalu bergantung pada AI hingga melupakan fungsi otaknya sendiri.

Pada sesi terakhir, Stefanus S. Wibagso mengajak peserta untuk mempraktikkan secara langsung aplikasi yang didukung oleh kecerdasan buatan. Ia menunjukkan bagaimana AI bisa digunakan untuk membuat jadwal petugas misdinar, jadwal kegiatan dan pelayanan WKRI, membuat materi ajar Bina Iman Anak (BIA), hingga mendukung tugas para seminaris dalam menyusun program kegiatan sehari-hari. Sesi ini disambut hangat oleh peserta karena langsung menyentuh kebutuhan nyata di paroki.

“Semoga seminar ini menjadi langkah awal bagi umat untuk tidak hanya mengenal AI, tetapi juga memanfaatkannya secara bijaksana dan etis demi kemajuan bersama, termasuk dalam pelayanan kehidupan menggereja”, harap Stefanus.
**Fr. Bednadetus Aprilyanto
