“Berani melangkah meski goyah”

Hari ini kita merenungkan kisah Yesus yang berjalan di atas air dan menyelamatkan Petrus dari tenggelam. Kisah ini penuh dengan simbol kehidupan kita: badai, ketakutan, dan undangan untuk percaya. Di tengah malam yang gelap dan angin yang kencang, para murid berada dalam perahu yang terombang-ambing. Lalu Yesus datang, berjalan di atas air—bukan sebagai bayangan atau ilusi, tetapi sebagai Tuhan yang mengatasi kekacauan dan membawa damai di tengah badai.
Petrus, dengan keberaniannya, berkata: “Tuhan, jika Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Dan ia pun melangkah keluar dari perahu. Namun, ketika pandangannya berpaling dari Yesus kepada angin dan ombak, ia mulai tenggelam. Inilah cermin hidup kita: ketika fokus kita beralih dari Tuhan kepada masalah-masalah kita, rasa takut mulai menguasai hati.
Seorang filsuf Kristen, Søren Kierkegaard, pernah berkata: “Iman melihat paling jelas justru dalam kegelapan.” Petrus memulai dengan iman, tetapi rasa takut membuat pandangannya kabur. Namun ketika ia mulai tenggelam, ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya. Begitu cepat, tanpa syarat, dan tanpa penundaan.
Bapak-Ibu dan saudara-saudari sekalian, mungkin kita juga sedang berada dalam badai kehidupan: konflik dalam keluarga, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, atau kesepian yang berkepanjangan. Namun ingatlah kata-kata bijak dari Nelson Mandela: “Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atas rasa takut itu sendiri.” Keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi berani melangkah walau masih takut. Petrus berani keluar dari perahu—dan itulah awal dari mujizat.
Yesus tidak hanya datang untuk menenangkan badai yang terlihat, tetapi juga badai yang tersembunyi di dalam hati kita. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus: “Percaya kepada Tuhan berarti masuk ke dalam damai-Nya dan menyerahkan diri sepenuhnya pada penyelenggaraan-Nya.” Artinya, kita diminta untuk melepaskan kendali dan membiarkan Tuhan memimpin hidup kita.
Maka, saudara-saudara yang terkasih, di tengah badai apapun yang sedang kita hadapi hari ini, marilah kita belajar dari Petrus: berani melangkah dalam iman, dan saat kita mulai goyah, berserulah kepada Tuhan. Ia tidak akan pernah terlambat. Ia akan segera mengulurkan tangan-Nya dan memampukan kita berdiri kembali di atas gelombang kehidupan.
Tuhan memberkati kita semua.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
