“Dalam Keheningan, Kita Melihat Kemuliaan-Nya”

Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus naik ke sebuah gunung untuk berdoa. Dalam keheningan dan kesunyian doa itulah wajah-Nya berubah, pakaian-Nya menjadi putih berkilau, dan tampak Musa serta Elia berbicara dengan-Nya. Peristiwa ini dikenal sebagai transfigurasi, di mana Yesus menampakkan kemuliaan-Nya yang ilahi di hadapan murid-murid pilihan-Nya.
Sering kali kita mendambakan pengalaman rohani yang menyentuh dan menggugah seperti yang dialami ketiga murid itu. Namun, peristiwa itu tidak terjadi di tengah keramaian, melainkan dalam doa dan di tempat yang sunyi. Pesan ini mengajak kita untuk berani naik ke “gunung” kehidupan rohani kita sendiri dengan menyisihkan waktu dari kesibukan, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia, agar kita bisa menyaksikan kemuliaan Tuhan dalam doa dan keheningan hati.
Petrus ingin mendirikan tiga kemah, seolah ingin mempertahankan momen indah itu. Namun, pengalaman rohani bukanlah untuk dinikmati semata, melainkan untuk memperkuat kita ketika kembali ke lembah kehidupan yang penuh tantangan. Suara dari awan menegaskan: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!”. Ini merupakansebuah perintah ilahi untuk menjadikan Yesus sebagai pusat hidup kita, untuk mendengar dan menaati-Nya, bukan hanya saat berada di puncak pengalaman rohani, tetapi juga dalam keseharian yang biasa.
Akhirnya, ketika awan itu berlalu, mereka hanya melihat Yesus seorang diri. Ini menyiratkan bahwa setelah semua pengalaman dan penglihatan berlalu, Yesuslah yang harus tetap tinggal di hati kita. Dialah kemuliaan sejati yang memberi terang di tengah kegelapan hidup.
Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
