Renungan Harian, 9 Agustus 2025

“Mengakui Kelemahan, Memohon Kekuatan”

Penuh pengharapan | Foto: Pinterest

Dalam bacaan Injil ini, kita bertemu dengan seorang ayah yang datang kepada Yesus dengan hati yang hancur karena anaknya kerasukan setan dan sering menderita secara fisik. Ia telah membawa anaknya kepada para murid, tetapi mereka tidak mampu menolong. Lalu Yesus menanggapi dengan kata-kata yang tajam: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?” Teguran ini tidak hanya ditujukan kepada orang banyak, tapi terutama kepada para murid-Nya sendiri.

Mengapa para murid gagal? Padahal sebelumnya mereka sudah diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Ternyata, mereka mulai mengandalkan kekuatan sendiri. Mereka lupa bahwa kuasa untuk menyembuhkan datang bukan dari diri mereka, tetapi dari Tuhan. Yesus menyebut penyebab kegagalan mereka secara jelas: kurangnya iman.

Kita pun sering berada dalam posisi para murid. Kita ingin melakukan yang baik, ingin membantu sesama, ingin mengatasi persoalan hidup, tetapi sering kita melakukannya tanpa menyandarkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Ketika doa terasa hambar, ketika pelayanan terasa berat, atau ketika hidup terasa buntu, mungkin itu saatnya kita bertanya: apakah aku sungguh percaya? Apakah aku masih bersandar pada Tuhan atau mulai mengandalkan diriku sendiri?

Yesus berkata bahwa iman sebesar biji sesawi saja cukup untuk memindahkan gunung. Ini bukan tentang ukuran literal, tetapi kualitas iman yang sungguh hidup, yang bersandar pada Allah, bukan pada kekuatan manusia. Biji sesawi sangat kecil, tetapi ia tumbuh. Begitu juga iman, harus dipelihara dan dikembangkan dalam doa, keheningan, dan penyerahan diri yang total.

Hari ini, kita diundang bukan untuk malu akan kelemahan kita, tapi untuk datang kepada Tuhan seperti sang ayah dalam Injil, yang jujur, rendah hati, dan percaya. Tuhan tidak mencari kehebatan kita dan Ia juga tidak menginginkan kita hanya mengandalkan kemampuan kita, tapi Ia menginginkan hati yang terbuka untuk menerima kuasa-Nya. Dengan demikian , kita layak dan pantas untuk berseru kepada Tuhan: “Tuhan, tambahkanlah imanku.”

Tuhan memberkati.

** Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.