Renungan Harian, 12 Agustus 2025

“Hati yang Kecil di Hadapan Allah”

Yesus dan anak-anak | Foto: Pinterest

Bacaan Injil hari ini mengajak kita masuk dalam cara pandang Yesus yang sering kali berbeda dari dunia. Para murid datang dengan pertanyaan: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi di baliknya ada ambisi, keinginan diakui, dan rasa ingin unggul. Yesus menjawab bukan dengan teori, tetapi dengan tindakan yaitu dengan memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah mereka. Ia berkata, “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Yesus membalik logika dunia: di hadapan Allah, yang terbesar adalah yang sederhana hati, yang rendah diri, yang menyerahkan diri sepenuhnya seperti anak kecil pada orang tuanya.

Menjadi “seperti anak kecil” bukan berarti kekanak-kanakan, melainkan memiliki hati yang murni dan penuh percaya. Anak kecil tidak mengandalkan kekuatan diri, tetapi bergantung pada kasih orang tuanya. Demikian pula, kita dipanggil untuk mengandalkan Allah, bukan pada kuasa, harta, atau pengaruh. Sikap ini menuntut kerendahan hati dengan melepaskan gengsi, mengakui keterbatasan, dan membiarkan Allah yang memimpin langkah.

Yesus juga mengingatkan tentang nilai setiap pribadi. “Jangan menganggap rendah satu pun dari anak-anak kecil ini, karena malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku.” Dalam pandangan Allah, setiap jiwa berharga dan unik. Kadang kita tergoda menilai orang dari penampilan, status, atau kemampuannya. Namun, bagi Allah, yang tampak kecil, lemah, atau tidak berdaya justru menjadi yang paling berharga. Pandangan ini menantang kita untuk menghormati dan memperlakukan setiap orang dengan kasih, tanpa terkecuali.

Melalui perumpamaan domba yang hilang, Yesus menegaskan bahwa Allah tidak rela kehilangan satu pun dari anak-anak-Nya. Ia meninggalkan yang sembilan puluh sembilan untuk mencari satu yang hilang. Logika kasih Allah ini mengingatkan kita bahwa misi kita bukan hanya menjaga yang sudah aman, tetapi juga mencari yang terpinggirkan, yang jauh dari iman, dan yang merasa tidak layak. Allah selalu merindukan yang tersesat untuk kembali kepada-Nya, dan Ia mengutus kita untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Sahabat terkasih, marilah kita belajar menjadi kecil di hadapan Allah. Menjadi pribadi yang rendah hati, percaya penuh, dan tulus hati. Semoga kita juga memiliki hati gembala yang rela mencari dan merangkul yang hilang, sehingga sukacita di surga karena satu jiwa yang kembali, juga menjadi sukacita kita di dunia.

Tuhan memberkati.

** Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.