Minggu siang yang cerah (10/8/2025), Lapangan Santo Petrus dipenuhi ribuan umat yang menatap penuh harap ke arah jendela tempat Paus Leo XIV berdiri. Suaranya hangat namun tegas ketika ia mulai merenungkan Injil Lukas. “Coba kita tanyakan pada diri sendiri,” katanya, “di mana sebenarnya kita menginvestasikan harta hidup kita?”

Ia mengingatkan, kata Yesus yang terdengar sederhana “Jual apa yang kamu miliki dan berikan sedekah”, sebenarnya mengajak kita melampaui sekadar berbagi barang. Yang Yesus minta adalah supaya kita berani menggerakkan waktu, kehadiran, perhatian, kasih sayang, bahkan empati kita untuk orang lain, terutama mereka yang paling membutuhkan. “Kita semua ini harta yang unik dan tak ternilai dalam rencana Tuhan,” lanjutnya. “Kalau dibiarkan menganggur, harta itu akan kering. Tapi kalau diolah dan dibagikan, nilainya tak terbatas.”
Paus Leo juga memberi peringatan: hati dan bakat yang Tuhan titipkan bisa saja terbuang sia-sia, atau malah diambil oleh mereka yang memperlakukan kita hanya sebagai alat konsumsi. Supaya harta ini berkembang, kita butuh ruang, kebebasan, hubungan, dan terutama kasih. Yaitu kasih yang mampu mengubah dan memuliakan setiap sisi hidup kita, membuat kita semakin menyerupai Allah sendiri.
Ia lalu menunjuk ke salib, perjalanan Yesus menuju Yerusalem, sebagai teladan tertinggi investasi kasih. “Bank teraman bagi harta hidup kita,” ujarnya sambil tersenyum, “adalah karya belas kasih.” Bahkan hal yang tampak kecil seperti dua keping koin seorang janda miskin, bisa menjadi persembahan termahal di mata Tuhan. Mengutip Santo Agustinus, Paus berkata, “Apa yang diberikan dalam kasih akan mengubah kita, sebab pemberinya pun diubah.”

Sebelum menutup pesannya, Paus mengajak semua yang hadir melihat kebenaran ini dalam hal-hal sederhana: pelukan seorang ibu kepada anaknya, tatapan dua orang yang saling mencintai, atau sikap perhatian di tempat kerja maupun di paroki. “Jangan lewatkan satu pun kesempatan untuk mengasihi,” katanya. “Itulah kewaspadaan yang Yesus minta dari kita.” Lalu, dengan nada penuh harap, ia mempercayakan semua keinginan itu kepada Maria, Sang Bintang Fajar, agar kita menjadi penjaga belas kasih dan perdamaian di dunia yang haus akan cinta.
**Disadur ulang oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto dari www.vaticannews.va
Foto: Pinterest
