“Hari ini kita berada di sebuah momen yang sangat istimewa. Kita merayakan 100 tahun wafatnya Pater Leo Dehon yang sekaligus ada dalam rangkaian Tahun Yubileum Dehonian 2024-2028. Tahun Yubileum yang bertema “For Him I Live,Christ Lives in Me” dibuka oleh Pater Jenderal tahun lalu di Brussel dan berpuncak pada 28 Juni 2028, saat di mana Dehonian merayakan 150 tahun berdirinya Kongregasi”. Hal ini disampaikan oleh Pastor Petrus Murwanto SCJ dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Peringatan 100 tahun wafatnya Pater Johanes Leo Dehon dan Pembukaan Yubileum Dehonian di Rumah Retret Giri Nugraha Palembang, Selasa (12/8/2025) pagi.

Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Superior SCJ Wilayah Palembang, Pastor Laurentius Suwanto SCJ, didampingi Dekan Dekanat Palembang, Pastor Higynus Gono Pratowo, Anggota Dewan Pimpinan Kongregasi SCJ Provinsi Indonesia, Pastor Christoforus Wahyu Tri Haryadi SCJ, Pastor Petrus Murwanto SCJ, dan puluhan imam konselebran lainnya.

Dehonian adalah sebutan bagi anggota Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Kongregasi ini didirikan di Paroki St. Quentin, Prancis pada 28 Juni 1878 oleh seorang imam diosesan dari Keuskupan Soissons Prancis bernama Yohanes Leo Dehon. Ia lahir di La Capelle, Prancis pada 14 Maret 1843 dan wafat di Brussel, Belgia pada 12 Agustus 1925.

Di hadapan puluhan umat yang hadir, terdiri dari para dehonian awam, seminaris, biarawan-biarawati, dan sejumlah undangan dari berbagai instansi tempat anggota SCJ berkarya ini, Pastor Murwanto juga mengungkapkan bahwa perayaan Tahun Yubileum Dehonian akan menjadi peziarahan rohani bagi seluruh Dehonian bersama umat. “Secara khusus Dehonian Indonesia akan berjalan bersama melalui empat tema, yaitu: Kristus Hidup di dalam Aku (2025), Bersatu dalam Cinta Kristus (2026), Diperbarui oleh Kristus (2027), dan Diutus untuk Mewartakan Cinta Kristus (2028)”.


Lebih lanjut ia menegaskan bahwa tema permenungan itu bukan sekedar slogan tahunan, namun merupakan langkah-langkah perjalanan batin untuk menghidupi, memperdalam, dan mewartakan warisan rohani yang telah diwariskan oleh Pater Dehon. “Kalau tema-tema tersebut kita jalankan dengan sungguh-sungguh, saya yakin di tahun 2028 kita akan menjadi pribadi yang lebih Dehonian, lebih hangat, lebih berani, lebih bersemangat, dan lebih penuh kasih seperti Hati Kudus Yesus. Dan umat yang mengalami pelayanan para Dehonian juga bisa mengalami dan merasakan cinta Hati Kudus Yesus”, tegasnya.
Imam yang berkarya sebagai dosen di Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) Palembang ini juga mengajak seluruh umat untuk melihat warisan rohani Pater Dehon yang ia sampaikan sebelum wafatnya.
“Kepadamu kuwariskan harta terindah yakni Hati Kudus Yesus. Kata-kata ini lahir dari hati yang mencintai sampai akhir. Lahir dari pribadi yang menyimpulkan seluruh hidupnya dengan penuh syukur dan keyakinan sembari menunjuk pada patung Hati Kudus Yesus dengan berkata: Per lui vivo, per lui muoio – Untuk Dia aku hidup, untuk Dia aku mati”.
Alumni Seminari Menengah St. Paulus Palembang ini juga mengingatkan dan menyadarkan para Dehonian bahwa menghayati dan menghidupi spiritualitas Hati Kudus Yesus tidak cukup di ruang sakral tetapi mesti mendorong untuk terlibat aktif dalam menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan pelayanan dan persoalan sosial. “Kita sangat familiar dan sering kali menggunakan kata-kata Dehon, go to the people – keluarlah dari sakristi untuk menghayati kedehonianan kita. Saya yakin, bagi Dehon, keluar dari sakristi berarti keluar dari kenyamanan, masuk ke dalam realitas umat, mendengar denyut nadi kehidupan mereka, mengulurkan tangan bagi mereka yang menderita, serta membawa kelembutan Hati Yesus ke jalan-jalan kehidupan mereka.”
Ia menegaskan bahwa membumikan spritualitas Hati Kudus Yesus berarti membiarkan hati kita terluka oleh penderitaan sesama, membiarkan hati gelisah oleh ketidakberesan atau ketidakselarasan tatanan hidup dengan nilai-nilai Kerajaan Allah, lalu menjawabnya dengan kasih yang nyata. “Maka pada momen istimewa ini kita diajak untuk menyalakan kembali semangat adveniat regnum tuum (Datanglah KerajaanMu), bukan hanya di ruang doa, tetapi juga di tengah pasar, di paroki-paroki, di komisi-komisi, di sekolah, di pusat kota, bahkan di pinggiran yang terabaikan, bersama dengan umat Allah dalam semangat kolaborasi, berjalan bersama. Mari kita lanjutkan estafet Dehon, dengan hati yang menyala, kaki yang melangkah, dan tangan yang bekerja, kita menghadirkan Hati Kudus Yesus di dunia”, tegasnya penuh harap.
**RD. Titus Jatra Kelana
Foto: Dokumen Komsos KAPal
