“Belajar Menjadi Kecil di Hadapan Allah”

Saudara-saudari terkasih,
Dalam Injil hari ini, kita mendengar kisah sederhana namun penuh makna. Orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus agar Ia mendoakan mereka. Namun, murid-murid justru memarahi orang-orang itu. Mungkin bagi para murid, anak-anak dianggap tidak penting dan menjadi pengganggu bagi Sang Guru. Tetapi Yesus membalikkan pandangan itu. Ia berkata, “Biarkan anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Yesus mengangkat anak-anak sebagai teladan iman. Mengapa? Karena anak-anak memiliki hati yang polos, penuh kepercayaan, dan tidak rumit. Mereka datang apa adanya, tanpa berpura-pura, tanpa perhitungan untung rugi. Dalam pandangan dunia, anak-anak kecil belum punya kuasa, pengaruh, atau jabatan. Tetapi justru dalam ketidakberdayaan itu, mereka menjadi gambaran orang yang sepenuhnya bergantung pada Allah.
Kita yang sudah dewasa sering kali kehilangan sikap hati seperti anak-anak. Kita terlalu sibuk mengandalkan kepandaian, mengatur strategi, atau mencari pengakuan. Kita mulai sulit percaya begitu saja, dan sering menimbang-nimbang sebelum datang kepada Tuhan. Padahal Yesus mengundang kita untuk memiliki iman yang sederhana: percaya penuh, tanpa syarat, dan tanpa ragu.
Yesus juga menegur para murid yang mencoba menghalangi anak-anak. Ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain yang ingin mendekat kepada Tuhan, entah dengan sikap meremehkan, menghakimi, atau menutup pintu belas kasih. Sebaliknya, kita dipanggil menjadi jembatan yang menuntun orang datang kepada-Nya.
Saudara-saudari, menjadi seperti anak kecil di hadapan Allah bukan berarti kekanak-kanakan, melainkan memiliki hati yang murni, rendah hati, dan siap menerima. Kerajaan Allah adalah anugerah, bukan hasil jerih payah semata. Maka, kita hanya bisa menerimanya bila kita datang dengan hati yang terbuka, seperti seorang anak yang menadahkan tangannya untuk menerima kasih dari Bapa.
Hari ini, marilah kita memohon rahmat agar Tuhan melembutkan hati kita. Kiranya kita mampu menanggalkan kesombongan, sikap berkuasa, dan segala hal yang membuat kita sulit percaya. Biarlah kita datang kepada-Nya dengan hati sederhana, penuh syukur, dan siap dipeluk oleh kasih-Nya.
Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
