“Hati yang Terikat”

Saudara-saudari terkasih,
Injil hari ini menceritakan seorang muda yang datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang indah: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Ia mencari jalan keselamatan, dan Yesus menuntunnya untuk menaati perintah Allah. Pemuda itu menjawab bahwa semua perintah itu sudah ia jalani sejak muda. Tetapi Yesus melihat lebih dalam dan berkata: “Jikalau engkau hendak sempurna, juallah segala milikmu, berikanlah itu kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku.”
Di sinilah masalahnya. Injil mencatat bahwa pemuda itu pergi dengan sedih karena hartanya banyak. Ia rajin menaati hukum, tetapi hatinya masih terikat pada kekayaan. Hartanya menjadi penghalang untuk mengikuti Yesus sepenuh hati.
Kisah ini mengajak kita bercermin. Kita mungkin sudah menjalankan banyak kewajiban agama: berdoa, beribadah, berbuat baik. Tetapi, apakah hati kita benar-benar bebas untuk mengikuti Yesus? Atau masih ada “harta” yang kita genggam erat – bisa berupa uang, kedudukan, rasa nyaman, atau ego kita sendiri?
Yesus tidak menolak kekayaan, tetapi Ia menegaskan bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada mamon sekaligus. Kekayaan yang sejati adalah hidup bersama Allah, bukan jumlah harta yang kita kumpulkan. Kadang kita takut kehilangan, padahal Yesus menjanjikan sukacita yang lebih besar bila kita mau melepaskan.
Pemuda kaya dalam Injil ini memilih pulang dengan sedih. Ia gagal menemukan kebahagiaan karena tidak berani menyerahkan apa yang mengikat hatinya. Pertanyaannya bagi kita: apa yang membuat kita sulit berkata “ya” kepada Yesus hari ini?
Saudara-saudari, marilah kita memohon rahmat keberanian untuk melepaskan keterikatan yang menghalangi kita mengasihi Tuhan dan sesama sepenuh hati. Sebab hanya hati yang bebas yang dapat mengikuti Yesus dengan sukacita.
Mari bermenung, Tuhan memberkati. Amin
**Fr. Bednadetus Aprilyanto
