Renungan Harian, 21 Agustus 2025

“Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Yesus mengajar perumpamaan | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Banyak orang diundang, tetapi sebagian menolak, bahkan ada yang menolak dengan keras dan membunuh para utusan. Akhirnya, raja mengundang siapa saja yang ada di jalanan—orang baik maupun orang jahat—untuk memenuhi ruang perjamuan. Namun, ada satu orang yang tidak mengenakan pakaian pesta, sehingga ia dikeluarkan dari ruang perjamuan.

Yesus mengajarkan bahwa undangan Allah kepada perjamuan Kerajaan-Nya berlaku untuk semua orang. Tidak ada yang dikecualikan: baik yang dianggap layak maupun tidak. Akan tetapi, menerima undangan saja tidak cukup. Diperlukan kesiapan hati dan “pakaian pesta,” yakni hidup yang diperbaharui, hati yang murni, dan kesetiaan untuk hidup sesuai kehendak Allah.

Hari ini Gereja memperingati Santo Pius X, Paus, yang terkenal dengan motonya: “Instaurare omnia in Christo” — “Membarui segala sesuatu dalam Kristus.” Ia sangat menginginkan agar semua umat beriman dapat ikut serta dalam perjamuan agung Allah melalui Ekaristi. Karena itu, ia mendorong umat untuk sering menerima Komuni Kudus, bahkan memperbolehkan anak-anak kecil menerima Komuni pertama pada usia dini. Bagi Santo Pius X, Ekaristi adalah pakaian pesta yang mempersatukan kita dengan Kristus, Sang Mempelai Ilahi.

Seperti dalam perumpamaan Injil, semua diundang untuk datang ke perjamuan. Demikian juga Santo Pius X berusaha agar setiap orang beriman dapat masuk ke dalam perjamuan kudus melalui Ekaristi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kita perlu menyiapkan hati, membersihkan diri dari dosa, dan hidup sesuai Injil—itulah pakaian pesta kita. Tanpa itu, kita bisa saja hadir secara lahiriah, tetapi tidak sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus.

Saudara-saudari, dari Injil hari ini dan teladan Santo Pius X, kita diajak untuk tidak hanya bersyukur karena diundang, tetapi juga menyiapkan diri sebaik-baiknya agar layak duduk di meja perjamuan Tuhan. Undangan itu diberikan pada kita semua, tetapi menjadi pilihan kita untuk sungguh menjawabnya dengan kerendahan hati, kesetiaan, dan hidup yang diperbaharui dalam Kristus.

Semoga, dengan meneladan Santo Pius X, kita semakin cinta pada Ekaristi dan selalu mempersiapkan diri dengan hati yang murni, sehingga ketika saatnya tiba, kita layak ikut dalam perjamuan abadi bersama Kristus di surga. Amin. 

**Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.