PASTORAL PRIORITAS REGIO GEREJAWI SUMATERA

Kepada Para Imam, Suster, Frater, dan Bruder, Serta seluruh Umat Beriman di Keuskupan Agung Palembang.

Salam Kasih, Salam Satu KAPal.

Menindaklanjuti Temu Pastoral (Tepas) para Uskup dan Pimpinan Religius se-Regio Sumatera di Nias – Keuskupan Sibolga, pada 28 April – 1 Mei 2025 yang lalu, dimana dibicarakan dan diputuskan bersama tentang empat (4) prioritas pastoral yang harus dilaksanakan bersama maupun masing-masing Keuskupan di seluruh Regio Sumatera, yakni: Kaderisasi, Ekologi, Human Traficking, dan Pastoral Digital (Komsos); maka dengan ini saya menyampaikan himbauan penuh dan mengikat untuk segera dilaksanakan di Keuskupan Agung palembang.

1. Kaderisasi

Kita sangat bangga jika ada orang Katolik yang menonjol di berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam pemerintahan (legislatif, eksekutif, yudikatif) maupun dalam penegakan hukum (Kejaksaan, TNI, Polri), pada pengurus partai politik, dalam bidang pendidikan, olah raga, seni, budaya, dan sosial kemasyarakatan. Kita bangga karena banyak juga pahlawan nasional yang beragama Katolik. Mereka adalah teladan kita dalam hidup berbangsa dan bertanah air Indonesia.

Gereja sebenarnya mempunyai sarana-sarana untuk menciptakan dan mengorbitkan kader-kader bangsa. Sekolah-sekolah Katolik di berbagai tempat di tanah air masih menjadi sekolah favorit yang diminati oleh banyak orang. Banyak sekolah Katolik yang dilengkapi dengan asrama. Kita juga mempunyai panti asuhan yang diurus dengan baik. Seminari, selain mendidik para calon imam, juga melahirkan kader-kader awam yang tidak lanjut menjadi imam. Di paroki-paroki ada Sekolah Minggu, ada kegiatan Bina Iman Anak (BIA), Bina Iman Remaja (BIR). Ada juga pertemuan OMK se-Paroki, seDekanat dan bahkan se-Keuskupan. Jika kita tidak menemukan kader dengan talenta yang unggul dalam berbagai kegiatan tersebut, barangkali harus dirumuskan ulang tujuan kegiatan dan metode pelaksanaannya.

Kita juga mempunyai sarana-sarana formal sebagai wadah penampung aspirasi massa yang sangat baik dijadikan sarana kaderisasi: WKRI, ISKA, FMKI, Pemuda Katolik, PMKRI, dan Vox Point. Ada juga wadah dari kelompok-kelompok profesional berdasarkan keahliannya. Ormas-ormas ini salah satu tujuan kegiatannya seharusnya menemukan kader dan mengorbitkannya untuk pembangunan bangsa dan negara ke depan.

Pemerintah atau negara juga menyediakan sekolah-sekolah kedinasan yang dapat menjadi sarana keterlibatan generasi muda kita untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan negara. Ada sekolah-sekolah kedinasan yang menyediakan beasiswa dan tamatannya langsung bisa menjadi pegawai negeri. Ada sekolah-sekolah kedinasan yang juga berbeasiswa yang meluluskan cadangan pegawai negeri. Tentu saja sekolah-sekolah tersebut tidak menafikan kesempatan bersolo karir bagi mereka yang mampu. Namun jalur “kemudahan” tersebut sangat sayang jika tidak dimanfaatkan.

Jika sekarang dirasakan oleh banyak pihak, terutama oleh kaum awam sendiri, bahwa kaderisasi dalam Gereja Katolik seakan-akan berhenti, barangkali kita harus bertanya ke mana sebenarnya minat orang Katolik, terutama generasi muda kita? Apakah generasi muda kita minder dalam pergaulan dengan anak bangsa yang lain sehingga lebih memilih “mengurung diri”, tidak mau tampil di “muka umum” dan maka memilih tidak melanjutkan sekolah, atau memilih menjadi pekerja dan buruh, memilih menjadi pengusaha, pedagang, petani mandiri yang tidak mau diribetkan oleh berbagai prosedur aturan yang mengikat? Sangat sayang jika para generasi muda kita hanya mempunyai cita-cita tamat sekolah menengah dan lalu mencari pekerjaan seadanya. Sangat sayang jika talenta-talenta unggul yang dimiliki generasi kita hanya “dipendam” dalam kepentingan praktis sesaat.

Karena itu saya menghimbau Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Agung Palembang untuk bekerja sama dengan para Pastor Paroki dan Yayasan-yayasan Pendidikan Katolik serta Ormas-ormas Katolik untuk menemukan anak-anak bertalenta unggul (dalam bidang apapun), dan mendorong atau mengupayakan mereka untuk mengorbit ke kancah nasional. Di kancah nasional, jika mereka dapat menjadi pemegang kebijakan publik, kader-kader ini harus berani bekerja demi kesejahteraan masyarakat luas, harus berani untuk menjadi garam dan terang dunia, dan harus berani menolak suap serta tidak ikut arus koruptif.

Upaya ini haruslah juga melibatkan para orang tua mereka. Orang tua adalah pribadi-pribadi pertama yang paling mengenal karakter dan talenta anak-anaknya. Mereka harus didorong untuk rela membiarkan anak-anaknya yang unggul kepribadiannya merantau memberdayakan diri secara maksimal. Janganlah para orang tua menjadikan anak-anak mereka sekedar “fotocoppy” mereka, yakni merasa cukup kalau anak-anak mereka menjadi seperti mereka. Para orang tua harus bangga jika anakanaknya dapat menjadi pahlawan bagi bangsa dan negara tercinta ini.

2. Pastoral Ekologis

Pastoral ekologis bukan sekedar berlomba menanam pohon di komunitas kita dan untuk kepentingan komunitas atau mengolah sampah produksi rumah tangga atau komunitas kita saja. Harus ada tujuan yang lebih besar yakni menyelamatkan bumi sebagai rumah kita bersama. Dalam spirit Ensiklik dan Seruan Apostolik Paus Fransiskus Laudato Si (18 Juni 2015) dan Laudate Deum (4 Oktober 2024), hendaklah kita sadari bahwa rumah kita ini sudah sangat kotor. Kita harus bergerak bukan sekedar sendiri-sendiri dan sporadis, melainkan secara bersama dan masif, agar udara, air, tanah dan alam lingkungan kita kembali sehat. Kita menyehatkan dan menyelamatkan bumi agar hidup kemanusiaan kita menjadi bermartabat. Bumi adalah “saudari kita” dan hidup kita sangat tergantung padanya. Janganlah merusak bumi dan kita menjadi saudara yang durhaka terhadapnya, melainkan selamatkan bumi dan dengan itu kita menujukkan kasih sayang kita terhadap saudari kita.

Ada ungkapan bahasa Latin, “civis pacem para bellum – jika menginginkan damai siapkanlah perang”. Perdamaian yang tercipta dengan berlomba menciptakan senjata atau siap sedia melawan musuh dengan peralatan canggih, hanya akan melahirkan perdamaian semu. Orang akan terus-menerus hidup dalam kecemasan karena sewaktu-waktu orang/bangsa lain bisa mengancam keberadaan kita. Apakah benar jika kita menginginkan lingkungan kita bersih dan sehat kita harus menyiapkan kotak sampah? Pada kenyataannya usaha tersebut salah atau terbalik. Jika kita menginginkan lingkungan kita bersih justru jangan menyediakan kotak sampah. Lihatlah di jalan-jalan di kota kita. Kotak atau bak sampah selalu dipenuhi sampah berbagai jenis sampai meluap ke luar kotak/bak sampah. Ada juga bak sampah tidak resmi, yakni sepanjang jalan raya atau sudut-sudut tertentu dari hampir setiap jembatan. Sampah yang dominan adalah plastik dan yang tak bisa segera terurai atau malah tidak bisa diurai oleh tanah. Sampah tersebut bercampur dengan sisa makanan dan semua jenis sampah yang lain. Lingkungan menjadi sangat berbau busuk dan sama sekali tidak sehat.

Sekali lagi, (barangkali) lebih baik “tidak menyediakan kotak/bak sampah di tempat umum”. Setiap pribadi harus bertanggungjawab dengan sampah yang diproduksi oleh dirinya. Ketika seseorang berada di luar rumah dan memproduksi sampah, sampah itu harus dibawa pulang ke rumah, bukan dibuang di bak/kotak sampah. Di rumah, sampah tersebut harus dipilah dan diolah untuk menghasilkan produk bermanfaat bagi diri dan keluarganya. Jika ada sampah yang memang harus dibuang, hantarlah ke “pengepul” sesuai dengan jenisnya. Mulailah tidak memakai bahan plastik sebagai bahan kemasan keperluan kita. Jika setiap orang berbuat demikian, bisa dijamin lingkungan dan kota kita akan bebas sampah, bersih dan bebas polusi udara bau menyengat. Pada perayaan pesta rakyat, panitia harus mempunyai seksi kebersihan yang bertanggung jawab atas sampah yang ditinggalkan pengunjung yang tidak bertanggungjawab.

Saya berharap bahwa Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang dan Pansos “Bodronoyo” dapat mengajak seksi lingkungan hidup dari Komunitas-komunitas Religius dan Aktivis Lingkungan/Para Pengusaha untuk dapat mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk organik dan sampah-sampah lain untuk dijadikan produk ekonomis. Ini pastilah membutuhkan perhatian yang serius dan kreatifitas terobosan yang dapat berlangsung lama dan bermanfaat terus. Ini juga memutuhkan dana yang tidak sedikit.

Komunitas karya seperti sekolah dan rumah sakit sudah dengan sendirinya menjadi teladan kita. Lingkungan ini bukan hanya bersih namun juga mempunyai usaha pemilahan sampah yang dilaksanakan dengan baik. Lingkungan ini juga sudah lama bebas asap rokok. Para pastor paroki sebaiknya juga mencontoh mereka dengan menciptakan lingkungan Gereja sebagai daerah yang ramah anak dan bebas asap rokok. Untuk menghormati “kaum berkebutuhan khusus”, yakni para perokok dapat ditentukan smoking area yang tidak tampak di mata publik.

Hal lain yang juga sangat penting adalah jangan pernah membuang sisa makanan. Makanlah secukupnya. Jangan malu makan sampai piring kita bersih. Kita terbiasa dengan mentalitas palsu: orang terhormat hanya makan setengah dari yang diambil. Makan dengan piring sampai bersih sering dianggap sebagai orang kelaparan, orang rakus, atau orang bermental kuli. Sikap tersebut tidak menghargai banyak orang yang susah payah berjuang mencari sesuap nasi. Sikap tersebut juga tidak menghargai petani yang berbulan-bulan menunggu untuk bisa memanen hasil tanaman atau ternaknya. Bahkan sering diujung masa, mereka tidak bisa panen karena gangguan cuaca atau hama. Apakah kita tega membuang begitu saja hasil jerih payah mereka dengan alasan kita sudah membelinya? Serasional apapun alasan kita, iman dan etika Katolik tetap akan menyatakan bahwa hal tersebut adalah salah.

3. Pastoral Kaum Migran dan Perantau

Memang sangat miris bahwa negara kita yang berlimpah sumber daya alam tetap saja belum bisa menyejahterakan semua penduduknya. Di daerah-daerah tertentu bahkan kemiskinan masih saja menjadi keseharian hidup yang memprihatinkan. Keluarga miskin melahirkan anak-anak stunting. Bisa jadi jika tidak diatasi akan ada lost generation di masa depan.

Dewasa ini banyak tawaran untuk meretas kemiskinan. Ada tawaran pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) atau sekedar kredit dari bank plencit (pinjaman dari para rentenir) yang bisa semakin memiskinkan orang. Tawaran untuk mendapatkan pekerjaan mudah dengan janji imbalan gaji tinggi, menggiurkan minat para masyarakat desa. Apalagi yang datang mencari tenaga kerja di desa-desa berpenampilan glamor. Mereka bisa saja orang asing, tetapi bisa juga orang yang dikenal dari desanya bahkan keluarga sendiri. Pekerjaan mudah di kota atau di luar negeri sering menjerat pribadi maupun kelompok pencari kerja jatuh tertipu dan berada dalam perbudakan. Mereka dipekerjakan bukan pada tempat yang dijanjikan dan mereka harus membayar ongkos perjalanan mereka yang tidak sedikit dengan cicilan dari gaji mereka yang sering tidak berkesudahan.

Banyak pencari kerja yang terus menerus berada dalam situasi pemerasan atau perbudakan dari para majikan atau juga pencari tenaga kerja. Para pekerja ini, terutama kaum perempuan, sering kurang beruntung dan mendapatkan majikan yang kejam, bukan hanya tidak memberi gaji, melainkan juga melakukan kekerasan fisik dan psikologis. Banyak pekerja migran yang melarikan diri, ada yang bisa selamat namun ada banyak juga tidak bisa selamat. Banyak juga yang pulang kampung tinggal nama. Di antara banyak penderitaan tersebut ada yang mengalami perdagangan organ dirinya .

Ternyata yang dialami oleh bangsa kita bukan hanya yang datang dari daerah NTT. Dari Sumatera (Nias, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan dan Lampung) juga tidak sedikit. Apakah Gereja hanya akan diam membiarkan perbudakan modern ini terus berlanjut?

Gereja melalui karya-karya sosial kemanusiaan dapat mengurai siklus kemiskinan dan mencegah siklus perdagangan orang dengan turut serta menciptakan lapangan kerja bagi mereka yang membutuhkan. Selain itu bisa juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk menciptakan keahlian dalam pekerjaan tertentu. Dalam pelatihan dan pembinaan tersebut hendaknya disertai dengan pengetahuan akan hukum ketenagakerjaan, hak-hak buruh maupun majikan. Pencari kerja hendaknya disalurkan melalui badan-badan penyalur tenaga kerja legal. Jangan sampai terjadi pencari kerja menjadi tenaga kerja ilegal di negara atau di tempat kerja dan karena itu menjadi sasaran pemerasan.

Keuskupan melalui Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP), Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) dan Tarekat-tarekat Religius hendaknya mengusahakan dengan sekuat tenaga penyelamatan masa depan generasi muda, jangan sampai mereka terjebak pada kubangan penderitaan yang niakin mempersulit kehidupan mereka. Bagi korban perdagangan orang, Gereja harus terpanggil untuk melindungi mereka dan membuat mereka aman sampai mendapatkan pekerjaan baru atau pulang ke kampung dengan harapan akan memulai hidup baru berdasarkan keahiiannya.

4. Pastoral Digital

Pandemi Covid 19 membuat pertemuan flsik kita dengan orang lain menjadi terhalang, kering, dingin dan hambar. Syukurlah keadaan kini sudah pulih kembaii. Tetapi sudah sejak lama Gereja menghimbau untuk menggunakan sarana-sarana kornunikasi online sebagai jalan pastoral yang justru dapat menjangkau lebih banyak orang. Pada masa kita ini penggunaarl sarana komunikasi online dan digital makin mendesak. Jika kita tidak rnemanfaatkan, kita menjadi komunitas yang tertinggai. Tertinggal bisa berarti kuno, tidak exis Iagi, dan karena itu akan dilupakan. Exis berarti mengikuti perkembangan zaman dan turut serta rnenilai tanda-tandanya, merefleksikan dengan kebijakan dan ajarannya, dan karena itu tetap menjadi rumah bagi banyak orang. Memang makna exr.s sering ditafsirkan sebagai “yang penting hadir”. Maka yang terjadi orang sering menggunakan jari-jarinya lebih cepat dari perlimbangan nalarnya. Exis-nya. yang penting hadir, sering menjerumuskan orang pada penyalagunaan untuk eksploitasi din atau bahkan mengeksploitasi orang iain, menipu dan melecehkan. Banyak orang tidak bijak menggunakan media sosial sehingga jaruh pada “rayuan gombal” pihak lain dan akhimya menjadi “subyek” pemerasan pihak lain.

Dunia kita dewasa ini telah didominasi oleh segala hal yang terjadi di dunia maya. Di sana kita bisa menemukan ajaran apa dan siapa saja, baik yang benar maupun bahkan banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja dan banyak yang tidak benar. Jangan sarnpai warga gereja kemudian dipengaruhi oleh ajaran yang bertentangan dengan ajarun Gereja atau ajaran yang salah dan berbondong-bondong mengikutinya (bdk. Ibr 13: 9). Gereja harus exis di dunia maya dan menjadi terang dan garam-nya seperti dalam dunia nyata (Mat 5: 13-16).

Saya sangat berharap Komsos Keuskupan Agung Palembang sebagai “corong” Keuskupan yang menyebarkan pewartaan kegiatan pastoral dapat bekerja sama dengan devisi-devisi digital Tarekat Religius untuk semakin gencar mewarlakan dan menyebarkan Kabar Sukacita Injil di dalam dunia maya ini. Komsos juga harus bisa memberikan pelatihan bagi Seksi Komsos Paroki. Pada akhirnya Seksi Komsos Paroki harus bisa menganimasi kaum muda paroki dan warga Gereja pada umumnya untuk bijak menggunakan media digital. Jangan sampai dengan semangat exis orang menjadi mencemarkan diri sendiri yang akhirnya memotret buruk yang abadi siapa dirinya. Ingat jejak digital hampir tak terhapuskan. Jika yang di-upload sesuatu yang positif, maka diri anda pun akan positif secara abadi.

Penutup

Saya mendengar bahwa bebetapa keprihatinan di atas akan juga dibahas dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, yang akan dilaksanakan di Jakarta pada 3-7 November 2025. Hal itu pastilah karena keadaannya yang sudah sangat mendesak untuk kita lakukan bersama dan karena cinta kita pada bangsa dan tanah air kita Indonesia. Semoga kita bersama dapat melalrukan gerakan yang terbaik untuk masa depan bangsa dan tanah air kita. Semoga semua anak bangsa dapat hidup bersama harmonis dan sejahtera di bawah naungan Pancasila dan UUD 1945.

Palembang, 20 Juli 2025

Salam, doa dan berkat

Mgr. Yohanes Harun Yuwono

Uskup Keuskupan Agung Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published.