Renungan Minggu, 14 September 2025

Pesta Salib Suci

Bilangan 21:4–9; Mazmur 78:1–2,34–38; Filipi 2:6–11;

Yohanes 3:13–17; BcO: Galatia 2:19–3:7; 6:14–18; (M)

Memandang Salib

Memandang Sang Tersalib | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja merayakan Hari Raya Pemuliaan Salib Suci. Bacaan liturgi mengajak kita menaruh pandangan iman kepada Kristus yang tersalib. Kitab Bilangan mengisahkan bangsa Israel yang diselamatkan ketika memandang ular tembaga yang ditinggikan Musa. Tindakan itu bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi tanda iman bahwa Allah sendirilah yang menyelamatkan. Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa Ia pun akan ditinggikan di kayu salib, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal. Salib Kristus menjadi tanda keselamatan yang abadi bagi dunia.

Pada zaman Romawi, salib adalah lambang hukuman yang hina dan penuh penderitaan. Namun melalui ketaatan Yesus sampai wafat di salib, lambang kehinaan itu diubah Allah menjadi lambang kasih, pengorbanan, dan keselamatan. Inilah misteri iman kita: salib bukan lagi tanda kutuk, melainkan tanda berkat. Saat kita memandang salib, kita tidak hanya melihat penderitaan, tetapi juga kemenangan kasih Allah atas dosa dan maut.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Filipi menegaskan: Kristus yang taat sampai mati di salib kini ditinggikan Allah dan diberi nama di atas segala nama. Ketaatan-Nya yang penuh membuat semua lidah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Salib yang dulu tanda kehinaan kini menjadi sumber pengharapan dan sukacita. Dari sini kita belajar bahwa setiap kesetiaan dan ketaatan kepada Allah, meskipun lewat penderitaan, akan berakhir pada kemuliaan.

Dalam hidup kita pun ada salib yang harus dipikul: sakit penyakit, masalah keluarga, tekanan ekonomi, atau kekecewaan pada diri sendiri. Semua itu bisa membuat kita lemah dan putus asa. Tetapi perayaan hari ini mengingatkan: jangan hanya melihat beratnya salib, melainkan pandanglah Kristus yang tergantung di atasnya. Dari-Nya kita mendapat kekuatan, keberanian, dan harapan baru.

Memandang salib bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi belajar setia, sabar, dan tabah. Salib menjadi sumber hidup yang menguatkan. Saat kita berdoa di hadapan salib, kita diajak mempercayakan hidup sepenuhnya pada kasih Allah. Penderitaan yang kita jalani bersama Kristus tidak akan pernah sia-sia. Dari salib, kita belajar arti pengampunan, kerendahan hati, dan cinta kasih yang sejati.

Mari kita bertanya pada diri: apakah salib hanya menjadi hiasan di rumah atau di leher, atau sudah menjadi sumber kekuatan dalam hidup kita? Hari ini Tuhan meneguhkan: siapa pun yang memandang kepada-Nya dengan iman akan memperoleh hidup. Maka jangan takut menatap salib, sebab di sanalah kita menemukan jalan menuju kebangkitan. Semoga Tuhan selalu memberkati kita.

**Fr. Paulus Dannis Cahya Putra

Tingkat 5Calon imam KAPal

Leave a Reply

Your email address will not be published.