Renungan Harian Rabu, 15 Oktober 2025

PW St. Teresia dari Yesus (Perawan dan Pujangga Gereja)

Rm 2:1-11; Mzm 62:2-3.6-7.9; Luk 11:42-46; BcO Yer. 3:1-5.19-4:4; (P)

Membuka Hati

Buka kunci hati | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini menampilkan sabda “celaka” yang diucapkan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat — mereka yang membanggakan pengetahuan dan kedudukan mereka. Yesus menegur mereka bukan karena kepandaian mereka, melainkan karena hati mereka yang tertutup. Mereka sibuk mengajarkan hukum, tetapi lupa menghidupi keadilan dan kasih yang menjadi inti dari ajaran itu sendiri.

Yesus melihat bahwa mereka kehilangan hati. Mereka lebih menonjolkan kebanggaan diri daripada belas kasih. Dan jika kita jujur, kita pun bisa jatuh dalam sikap yang sama. Ada kalanya kita merasa diri paling benar, paling tahu, paling saleh, hingga sulit menerima teguran atau masukan dari orang lain. Kita bisa dengan mudah menilai dan membicarakan kesalahan orang lain, tetapi enggan memeriksa batin sendiri.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma juga menegur dengan keras: “Hai manusia, siapapun engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari kesalahan.” (Rm 2:1). Betapa seringnya kita menuntut kesempurnaan dari sesama, tetapi dengan ringan membenarkan kekurangan diri sendiri. Kita cepat berkata, “Dia salah,” namun jarang bertanya, “Apa yang salah dalam hatiku?” Teguran ini mengajak kita untuk berani bercermin, menelusuri kedalaman hati, dan membiarkan Tuhan menerangi bagian-bagian yang gelap di dalam diri kita.

Dalam terang sabda hari ini, Gereja mengajak kita meneladani Santa Teresia dari Yesus (Avila). Seorang perempuan sederhana yang memilih jalan batin — jalan doa dan keheningan. Ia tidak sibuk menghakimi dunia, melainkan membiarkan Tuhan lebih dulu mengubah dirinya. Dalam doa-doanya yang mendalam, Teresia menjalin dialog kasih dengan Allah, membuka hatinya tanpa berpura-pura. Ia mengajarkan bahwa kekudusan sejati bukan diukur dari seberapa banyak karya yang kita lakukan, tetapi dari seberapa besar kasih yang kita curahkan dalam setiap karya itu.

Saudara-saudari, marilah hari ini kita belajar membuka hati seperti Santa Teresia. Jangan biarkan kesombongan rohani menutup mata kita dari kehadiran Tuhan. Sebaliknya, biarlah kita datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan berkata, “Tuhan, ubahlah aku terlebih dahulu.” Semoga dengan hati yang terbuka, kita semakin serupa dengan Kristus — penuh kasih, rendah hati, dan siap diubah oleh-Nya. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa R.G

Tingkat 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.