“Cinta kasih Allah mengatasi segala situasi manusia dan dunia. Maka janganlah kita terlalu tenggelam dalam situasi tersebut, tetapi syukurilah rahmat belas kasih Allah yang selalu baru setiap hari.”

Demikian diungkapkan oleh Fr. Marcelinus SCJ dalam renungan yang disampaikan saat Ibadat Sabda di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Palembang, pada Jumat (17/10/2025). Ibadat ini menjadi pembuka perjumpaan bersama 8 warga binaan yang beragama Kristen Protestan dan Katolik.
Kegiatan kunjungan yang rutin diadakan setiap Jumat pukul 10.00 WIB ini menjadi salah satu bentuk nyata sapaan dan kehadiran Gereja di tengah umat yang sedang menjalani masa pembinaan. Hadir mendampingi Fr. Linus SCJ, demikian ia biasa disapa adalah empat orang relawan dari beberapa paroki di Dekanat Palembang, yaitu Maria M. Mamik (Paroki St. Paulus Plaju), V.G. Suyanti (Paroki St. Fransiskus de Sales), Gertrudis Jenny (Paroki St. Yoseph), dan Christina Sri Ismiyanti (Paroki St. Stefanus). Kehadiran para relawan tidak hanya memberi dukungan doa dan materi, tetapi juga memberi pengharapan serta penghiburan yang nyata bagi warga binaan Kristiani.
Dalam permenungannya, dehonian muda yang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral dan Panggilan (TOPP) di Seminari Menengah St. Paulus Palembang ini juga mengajak para warga binaan untuk menyadari bahwa cinta kasih Allah jauh melampaui segala bentuk dosa dan keterbatasan manusia. “Tidak ada situasi yang terlalu gelap bagi Allah untuk menjangkau umat-Nya,” tegasnya.
Setelah Ibadat Sabda, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama, menikmati aneka sajian sederhana yang telah dipersiapkan oleh para relawan dan pemerhati. Salah satu warga binaan yang ikut dalam kegiatan tersebut menyampaikan kesan mendalamnya.
“Semua ibu yang datang sangat baik. Mereka banyak membantu kami, selain dengan doa-doa mereka juga membantu kebutuhan-kebutuhan kami di sini,” tuturnya dengan senyum penuh syukur.
Mewakili relawan, Suyanti, menuturkan bahwa kehadiran para relawan merupakan bukti bahwa Gereja selalu hadir bagi sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian dan terpinggirkan. Kehadiran mereka di tengah warga binaan, menurutnya sangat bermakna bagi warga binaan, perjumpaan itu dapat membantu agar iman mereka tidak hilang ketika diterpa situasi yang berat ini.

Ia pun menuturkan harapannya bagi Gereja agar tidak hanya hadir di balik tembok gereja, tetapi juga di tempat-tempat yang sering terlupakan. “Saya berharap agar para imam, umat, dan dari kelompok-kelompok kategorial lainnya mau untuk terlibat dalam kunjungan ke lapas ini supaya kita dapat memberi dukungan sesuai ajaran Kristus dan warga binaan dapat curhat atau sharing kepada romo, suster, frater, atau pengunjung lainnya.”
Makan siang bersama menjadi penutup yang indah dari seluruh rangkaian kegiatan. Dalam tawa, cerita, dan doa, tumbuhlah harapan baru bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.
Seraya merenungkan Seruan Apostolik Paus Leo XIV berjudul Dilexi Te (Aku Telah Mengasihi Engkau) yang dirilis pada 4 Oktober 2025, bertepatan dengan Pesta St. Fransiskus dari Assisi, kunjungan ini menjadi semakin bermakna. Pesan sentral seruan ini adalah tentang cinta kasih ilahi dan solidaritas terhadap mereka yang lemah dan menderita. Paus mengundang kita untuk seperti Kristus yang meluapkan kasihNya bagi orang miskin, orang terlantar, orang tersingkir, orang yang tidak mempunyai pembela, tidak mempunyai pengharapan, orang-orang kecil.
**Fr. Marcelinus SCJ (Kontributor Palembang)
Foto: Dokumentasi Pribadi
