Dalam Pesannya untuk Hari Perdamaian Sedunia 2026, Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan mendalam atas dunia yang semakin dikuasai oleh ketakutan, perlombaan senjata, dan ancaman perang. Menurutnya, relasi antarbangsa kini lebih banyak dibangun di atas rasa curiga dan dominasi kekuatan daripada hukum, keadilan, dan kepercayaan. Situasi ini tidak menghadirkan rasa aman, melainkan justru memperdalam kecemasan dan ketidakstabilan global.
Paus menolak gagasan bahwa kekuatan militer—termasuk penangkalan nuklir—dapat menjamin perdamaian. Ia menegaskan bahwa logika penangkalan lahir dari ketidakrasionalan hubungan internasional yang menjadikan ketakutan sebagai alat politik. Mengutip Santo Yohanes XXIII, Paus mengingatkan bahwa umat manusia hidup dalam bayang-bayang senjata pemusnah massal, yang setiap saat dapat memicu kehancuran akibat situasi yang tidak terduga. Fakta meningkatnya belanja militer dunia hingga triliunan dolar menunjukkan bahwa sumber daya global lebih banyak diarahkan pada instrumen kematian daripada pembangunan manusia.
Dalam budaya politik dan sosial dewasa ini, kesiapan untuk berperang sering dianggap sebagai sikap realistis, sementara usaha pelucutan senjata dipandang naif. Paus Leo XIV menilai pola pikir ini berbahaya, karena ketika perdamaian tidak lagi dihidupi dan dirawat, kekerasan merembes ke dalam kehidupan pribadi maupun ruang publik. Normalisasi konflik pada akhirnya melemahkan diplomasi, hukum internasional, dan upaya bersama membangun dunia yang adil.
Paus juga menyoroti perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, yang mulai digunakan dalam pengambilan keputusan militer. Ia menyebut hal ini sebagai pengkhianatan serius terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan, sebab tanggung jawab atas hidup dan mati perlahan dialihkan kepada mesin, sementara kepentingan ekonomi mendorong percepatan persenjataan.
Sebagai tanggapan, Paus mengarahkan perhatian pada Injil yang dengan jelas mengaitkan perdamaian dengan non-kekerasan. Perdamaian Kristus yang bangkit adalah perdamaian tanpa senjata, sebuah perjuangan yang ditempuh di tengah realitas sejarah, politik, dan sosial yang konkret. Keteladanan Yesus—yang menolak kekerasan dan memilih jalan kelemahlembutan—menjadi panggilan bagi umat Kristiani untuk mengakui keterlibatan masa lalu dalam kekerasan dan berani memberi kesaksian profetis. Dalam dunia yang memuja dominasi, kebaikan justru memiliki daya yang melucuti kekerasan.
Pelucutan senjata, menurut Paus, tidak cukup berhenti pada pengurangan senjata fisik. Ia harus dimulai dari batin manusia. Tanpa pelucutan senjata dalam hati dan pikiran, perlombaan senjata tidak akan pernah berakhir. Perdamaian sejati tidak terwujud melalui keseimbangan persenjataan, melainkan melalui kepercayaan timbal balik. Dalam konteks ini, agama-agama dipanggil untuk tidak pernah membenarkan kekerasan atas nama iman, melainkan menjadi ruang dialog, rekonsiliasi, keadilan, dan pengampunan.
Pesan ini juga memiliki dimensi politik dan moral. Paus Leo XIV menyerukan agar para pemegang otoritas publik kembali memperkuat diplomasi, mediasi, dan hukum internasional yang kini semakin dilemahkan. Perdamaian bukanlah utopia, melainkan sebuah pilihan sadar—baik secara pribadi, komunal, maupun politis. Narasi yang menganggap kekerasan sebagai keniscayaan harus ditolak, karena sering kali digunakan sebagai alat penindasan.
Pada akhirnya, Paus Leo XIV menutup pesannya dengan nada harapan. Mengacu pada janji Kitab Suci tentang senjata yang diubah menjadi alat kehidupan, ia mengajak umat manusia memulai pelucutan senjata hati, budi, dan cara hidup, terlebih dalam semangat Yubileum Harapan. Perdamaian bukan sesuatu yang harus diciptakan, karena ia sudah ada dan ingin tinggal dalam diri manusia. Tugas kita adalah menyambutnya dan membiarkan perdamaian itu melucuti kita dari ketakutan, kebencian, dan kekerasan.
**Linda Bordoni
Foto: Vatican Media
Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-12/pope-peace-day-message-leo-unarmed-disarmed.html
