Tiga tahun telah berlalu sejak RD. Bonifasius Djuana berpulang ke rumah Bapa di surga. Peringatan tiga tahun wafatnya Romo Boni menjadi momen penuh makna bagi Gereja Keuskupan Agung Palembang karena pada kesempatan ini juga ditandai dengan selesainya proses pengijingan makam beliau. Pengijingan makam tersebut merupakan ungkapan penghormatan dan kenangan atas jasa serta pengabdian Romo Boni yang semasa hidupnya dikenal sebagai imam yang setia melayani umat dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Keteladanan hidup imamatnya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang, sehingga peringatan ini dirayakan secara khusus dalam suasana yang khidmat dan penuh doa.

| Foto: Sekretariat Keuskupan
Dalam rangka mengenang wafatnya Romo Boni, Unio Keuskupan Agung Palembang, khususnya Unio Dekanat Palembang, mengadakan ziarah ke makam beliau pada Kamis, (15/1/2026) sore. Ziarah ini dilaksanakan sebagai sarana doa bersama bagi para imam dan umat beriman, sekaligus sebagai ungkapan syukur atas hidup dan karya pelayanan Romo Boni semasa hidupnya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempererat persaudaraan imamat di lingkungan Keuskupan Agung Palembang.
Ziarah tersebut dihadiri oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Palembang, Ketua Unio, Ketua Dekanat Palembang, serta para romo yang berkarya di wilayah Dekanat Palembang. Kegiatan ziarah diawali dengan ibadat sore yang dirayakan bersama di area makam. Ibadat berlangsung dengan sederhana namun sarat makna rohani dan diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh seluruh peserta.

| Foto: Sekretariat Keuskupan
Setelah ibadat, acara dilanjutkan dengan penaburan bunga di atas makam RD. Bonifasius Djuana. Bunga-bunga yang ditaburkan terlebih dahulu diberkati oleh Bapa Uskup, kemudian penaburan bunga diawali oleh Bapa Uskup, Ketua Unio, dan Ketua Dekanat, serta diikuti oleh para romo dan umat beriman. Pada kesempatan yang sama, penaburan bunga juga dilakukan di makam Frater Roni Rovianus Gambut, yang telah dipanggil Tuhan pada 31 Mei 2000, sebagai ungkapan doa dan penghormatan atas jasa dan panggilan hidupnya.
**Fr. Sebastianus Wahyudi (Kontributor Palembang)
