Perjalanan panggilan Fr. Iknasius Bayu Lesmana, SCJ adalah sebuah kisah tentang komitmen dan kesetiaan yang tumbuh dari kesederhanaan. Calon imam Kongregasi SCJ yang berasal dari Paroki Kristus Raja, Tugumulyo OKI ini merupakan putra sulung dari pasangan Martinus Samuri dan Mikael Satyem, yang lahir di Tugumulyo, 5 Mei 1997. Sejak kecil, Fr. Bayu sudah akrab dengan suasana pastoran, ia sering melihat para romo dan frater bekerja serta berolahraga bersama. Perjumpaan yang hangat inilah yang menyiram benih panggilannya hingga tumbuh menjadi keinginan kuat untuk masuk seminari.

Bagi Fr. Bayu, menjadi seorang calon imam selama kurang lebih 13 tahun adalah sebuah proses belajar tentang ketekunan. Ia banyak belajar dari perjuangan orang tuanya yang memulai usaha dari nol dengan modal terbatas; dari sanalah ia memetik nilai kesabaran dan optimisme dalam mengandalkan rahmat Tuhan. Pengalaman tersebut membentuknya menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan berani bertanggung jawab dalam menjalani setiap tahapan formatio. Perjalanan itu ia lalui mulai dari Seminari Menengah St. Paulus Palembang, Postulat dan Novisiat St. Yohanes Gisting, masa studi filsafat teologi di Yogyakarta, Tahun Orientasi Pastoral dan Panggilan (TOPP) di Paroki Hati Kudus Palembang, hingga kini menjalani masa Pengolahan Pastoral di Paroki Hati Kudus Yesus Pangkalan Kerinci, Riau.
Kini, dengan semangat motto panggilan “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20), Fr. Bayu menghayati bahwa komitmen bukanlah garis akhir, melainkan awal kesetiaan yang harus diperbarui setiap hari. Ia percaya bahwa ketika Kristus menjadi pusat hidup, iman tidak lagi sekadar kata-kata, melainkan sebuah kesaksian hidup yang nyata.
***TJK (Redaksi)
