Uskup Agung Palembang Hadiri Haul 2 Tahun Almarhum KH. Amiruddin Nahrawi: Kenang Sosok Sahabat dengan Hati yang Terbuka

“Izinkanlah saya atas nama pribadi dan atas nama umat Katolik Keuskupan Agung Palembang, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus karena telah diundang untuk hadir dalam peringatan Haul Almarhum sahabat baik kami, Cak Amir.”

Demikian diungkapkan Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengawali sambutannya saat menghadiri Haul 2 tahun almarhum KH. Amiruddin Nahrawi atau Cak Amir, yang diselenggarakan di rumah kediaman keluarga mendiang di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan, Palembang pada Minggu (26/1/2026) siang. Tampak hadir menemani Bapa Uskup adalah Uskup Emeritus, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo, Sekretaris Keuskupan, Romo Alexander Pambudi SCJ, para suster dan tokoh umat.

Mgr. Harun dan Mgr. Aloysius beserta perwakilan umat menghadiri Haul 2 Tahun Almarhum KH. Amiruddin Nahrawi.
| Foto: Dok Sekretariat Keuskupan

Lebih lanjut, Mgr. Yohanes juga mengungkapkan bahwa wafatnya Cak Amir, pada Jumat, 2 Februari 2024 silam meninggalkan rasa haru bagi komunitas umat Katolik. “Kehadiran kami di sini, bukan hanya sebagai tamu undangan, tetapi lebih dari itu: sebagai seorang sahabat, seorang saudara yang sangat merasakan kehilangan sosok “lilin yang selalu menyala” di tengah kegelapan prasangka,” terang Bapa Uskup.

Bapa Uskup juga menggarisbawahi sosok Cak Amir yang menurutnya bukan sekadar tokoh dari kalangan Nahdlatul Ulama, tokoh politik atau bahkan tokoh agama, melainkan seorang Sahabat, seorang Saudara, dan seorang Pejuang Kemanusiaan. “Beliau merupakan sosok yang memiliki “Hati yang Terbuka”,” ungkap Mgr. Yohanes.

Mgr. Harun dan Mgr. Aloysius disambut oleh keluarga Almarhum KH. Amiruddin Nahrawi.
| Foto: Dok Sekretariat Keuskupan

Hati yang terbuka itu, menurut Bapa Uskup, terwujud dalam persaudaraan yang melampaui batas-batas administrasi agama dan ia menjadi representasi dari wajah Islam yang ramah dan mengayomi. Kehadirannya yang tanpa ragu dan sungkan untuk duduk bersama Uskup, para pastor, suster dan pimpinan Gereja Katolik dalam berbagai kesempatan telah meruntuhkan sekat-sekat formalitas demi satu tujuan: Sumatera Selatan yang damai.

Mgr. Yohanes juga menyebut sosok Cak Amir sebagai jembatan yang kokoh bagi umat beragama di Sumatera Selatan untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling mengasihi melalui perannya sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama  (PWNU) Sumatera Selatan (Sumsel) sekaligus Staf Khusus Gubernur Bidang Hubungan Antar Agama. “Kami mengenang beliau sebagai pribadi yang selalu mengedepankan dialog daripada perdebatan, dan persaudaraan daripada perbedaan,” ungkap Bapa Uskup.

Istri Alm. Cak Amir memberi cinderamata cincin milik Cak Amir kepada Mgr. Aloysius.
| Foto: Dok Sekretariat Keuskupan

Uskup yang pernah berkarya di Keuskupan Tanjungkarang ini juga mengemukakan bahwa dalam aneka kesempatan Cak Amir sering menekankan bahwa keberagaman adalah takdir, namun persatuan dan persaudaraan adalah “ikhtiar” yang harus terus dirawat dan dijaga. “Menjadi religius itu berarti menjadi lebih manusiawi. Beliau sering mengajak dan menghimbau bahwa menjaga kerukunan umat beragama di Sumatera Selatan ini adalah tugas suci kita bersama,” terang Uskup.

Mengakhiri sambutannya, Bapa Uskup mengajak semua yang hadir untuk memaknai haul sebagai pengingat atas infrastruktur toleransi dan persaudaraan sejati yang telah dibangun Cak Amir sebagai warisan yang sangat mahal dan menjaganya agar warisan itu tidak hilang dan cita-citanya terwujud.

“Kami mengajak kita semua: mari kita teladani semangat beliau. Semangat untuk terus merajut tenun kebangsaan agar tidak tercabik oleh prasangka. Semoga sosok almarhum Cak Amir terus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjaga “api toleransi dan persaudaraan sejati” agar tetap menyala di Bumi Sriwijaya.”

Menantu Cak Amir minta doa restu kepada Mgr. Aloysius.
| Foto: Dok Sekretariat Keuskupan

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua PWNU Sumsel, KH. Hendra Zainuddin Al Qodiri. Ia mengungkapkan bahwa melalui perannya Cak Amir telah mewujudkan persaudaraan lintas agama sehingga selama pelayanannya Sumatera Selatan menjadi provinsi yang kondusif, damai, dan zero conflict.

Momen perjumpaan dalam suasana persaudaraan ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Palembang, Kiai Abdul Malik Syafei.

***TJK (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.