2 Sam. 24:2,9-17; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 6:1-6; BcO Kej 31:1-21

Iman yang Terhalang oleh Rasa Sok Tahu
Saudara-saudari yang terkasih, dalam bacaan Injil hari ini, Markus 6:1–6, kita mendengar kisah Yesus yang kembali ke kampung halaman-Nya dan mengajar di rumah ibadat. Orang-orang yang mendengarkan-Nya pada awalnya merasa kagum akan kebijaksanaan dan kuasa yang Ia miliki. Namun kekaguman itu tidak bertahan lama, sebab mereka mulai meragukan Yesus. Mereka merasa sudah mengenal-Nya sebagai anak tukang kayu, anak Maria, seorang yang biasa seperti mereka. Karena itulah, mereka sulit menerima bahwa Allah dapat berkarya melalui diri Yesus.
Saudara-saudari yang terkasih, sikap inilah yang membuat Yesus berkata bahwa seorang nabi sering kali tidak dihormati di kampung halamannya sendiri. Penolakan itu bukan karena Yesus tidak memiliki kuasa, melainkan karena hati orang-orang telah tertutup oleh prasangka dan perasaan merasa paling tahu. Mereka terlalu terpaku pada latar belakang Yesus, sehingga gagal melihat karya Allah yang sedang terjadi di hadapan mereka. Akibatnya, banyak tanda dan mukjizat tidak terjadi, bukan karena Allah tidak mau berkarya, melainkan karena manusia tidak membuka diri untuk percaya.
Saudara-saudari yang terkasih, melalui Injil hari ini, kita diajak untuk bercermin dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita juga menutup hati terhadap kehadiran Tuhan hanya karena Ia datang melalui orang-orang atau peristiwa yang sederhana. Tuhan dapat menyapa kita melalui keluarga, tetangga, sahabat, atau bahkan melalui orang yang selama ini kita anggap tidak penting.
Maka, marilah kita belajar untuk rendah hati dan senantiasa membuka hati. Dengan iman yang sederhana dan tulus, kita memberi ruang bagi Tuhan untuk berkarya dan memperbarui hidup kita melalui siapa pun dan dengan cara apa pun yang Ia kehendaki. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Pius Gusnius-Tingkat IV
Foto: Pinterest
