Hidup Bakti di Tengah Krisis Bumi

Romo Gregorius Jenli Imawan SCJ (kanan) Narasumber Seminar Hidup Bakti di Tengah Krisis Bumi | Foto : Komsos KAPal

Krisis bumi yang dialami dunia saat ini tidak hanya berkaitan dengan masalah lingkungan. Lebih dari itu, krisis ini menunjukkan adanya krisis sikap dan relasi manusia. Banjir, tanah longsor, perubahan iklim, serta berbagai bencana alam yang terjadi berulang termasuk di Indonesia menjadi tanda bahwa hubungan manusia dengan alam sedang tidak baik-baik saja.

Refleksi ini menjadi pokok pembahasan dalam seminar yang disampaikan oleh Romo Gregorius Jenli Ilmawan SCJ pada Selasa (2/2)  pukul 16.00 WIB, di Ballroom RS Charitas Palembang. Seminar ini diikuti oleh Uskup, para imam, serta biarawan dan biarawati Dekanat Palembang.  Dalam pemaparannya, Romo Jenli menegaskan bahwa krisis lingkungan saat ini membutuhkan tanggapan yang serius dan bernuansa kenabian, terutama dari hidup bakti. Hidup bakti dipanggil untuk menjadi suara yang menyadarkan dunia, khususnya ketika relasi manusia dengan alam semakin rusak.

Mengacu pada ensiklik Caritas in Veritate (2009) karya Paus Benediktus XVI, Romo Jenli menjelaskan bahwa kerusakan alam tidak terjadi dengan sendirinya. Alam rusak karena pola hidup manusia yang lebih mementingkan keuntungan, efisiensi, dan eksploitasi, tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan dan generasi mendatang.

Peserta Seminar Hidup Bakti di Tengah Krisis Bumi | Foto : Komsos KAPal

Banjir besar yang melanda berbagai wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 menjadi contoh nyata. Bencana ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga diperparah oleh ulah manusia, seperti kerusakan hutan dan pengelolaan lingkungan yang kurang bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan berakar pada rusaknya relasi manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam ciptaan.

Secara iman, dunia bukanlah benda mati yang boleh diperlakukan semaunya. Dunia adalah ciptaan Allah yang hidup dan bermakna. Romo Jenli mengutip pemikiran Pierre Teilhard de Chardin SJ, yang melihat dunia sebagai proses yang terus berkembang, di mana Allah tetap berkarya di dalamnya.

Ketika hubungan manusia dengan Allah melemah, manusia menjadi kurang peka terhadap alam. Alam tidak lagi dilihat sebagai anugerah, melainkan sebagai barang yang bisa dimanfaatkan tanpa batas. Karena itu, krisis lingkungan menjadi panggilan bagi manusia untuk kembali belajar bersyukur, menghormati alam, dan bertanggung jawab atas bumi yang dipercayakan Allah.

Sharing session Peserta Seminar Hidup Bakti di Tengah Krisis Bumi | Foto : Komsos KAPal

Dalam situasi ini, hidup bakti memiliki peran yang istimewa. Kaul kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian menjadi tanda kritik terhadap gaya hidup yang dikuasai oleh keserakahan dan keinginan untuk memiliki tanpa batas. Hidup bakti mengingatkan bahwa bumi bukan milik pribadi manusia, tetapi titipan Allah bagi semua orang dan generasi yang akan datang.

Sebagai tanda kenabian, hidup bakti tidak menjauh dari dunia, tetapi hadir di tengah dunia untuk membawa nilai-nilai Kerajaan Allah. Dengan hidup yang dipersembahkan kepada Allah, para religius dipanggil untuk membela ciptaan, terutama ketika alam dikorbankan demi kepentingan sesaat.

Romo Jenli juga menekankan bahwa iman Kristiani harus nyata dalam tindakan. Kasih tidak cukup hanya diucapkan dalam doa, tetapi perlu diwujudkan dalam perbuatan. Spiritualitas ekologis lahir dari hubungan yang dekat dengan Allah dan tampak dalam kepedulian sosial yang nyata.

Peserta Seminar Hidup Bakti di Tengah Krisis Bumi | Foto : Komsos KAPal

Merawat ciptaan menjadi bagian dari tugas perutusan iman. Dengan menjaga alam, manusia memuliakan Allah sekaligus melindungi kehidupan. Spiritualitas ekologis mengajak setiap orang untuk hidup sederhana, peduli pada lingkungan, dan berani bersuara demi keadilan bagi bumi serta mereka yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan.

Di akhir refleksinya, Romo Jenli menegaskan bahwa hidup bakti membawa harapan bagi bumi ketika nilai-nilai spiritual tarekat sungguh dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks Indonesia. Dengan demikian, hidup bakti dapat menjadi tanda harapan dan kesaksian iman di tengah dunia yang terluka. Hidup bakti dipanggil untuk menjadi tanda harapan dan suara kenabian, agar dunia kembali berjalan dalam kebenaran dan kasih Allah demi keutuhan ciptaan.

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.