
Pertemuan Komisi Kepemudaan Regio Sumatra berlangsung selama tiga hari, 4–6 Februari, bertempat di Rumah Ret-ret Giri Nugraha Km 7 Palembang. Kegiatan ini menjadi ruang temu, refleksi, dan penguatan bersama bagi para pelayan pastoral kaum muda dari berbagai keuskupan di wilayah Sumatra.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Pembuka yang dilaksanakan pada Selasa (4/4) pukul 16.00 WIB. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, didampingi oleh Rm. Frans Kristi Adi Prasetya, Pr, selaku Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KomKep KWI).

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes menegaskan bahwa Gereja saat ini sungguh berhadapan dengan tantangan besar dalam pastoral kaum muda. Kaum muda, menurutnya, sering kali antusias berkumpul ketika diajak untuk kegiatan rekreatif, namun tidak selalu mudah diajak untuk terlibat secara serius dan berkelanjutan. Pastoral kaum muda menuntut kesabaran yang tidak pernah lelah, sebab generasi muda akan terus berganti dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, Mgr. Yohanes menekankan pentingnya kerja sama lintas komisi, khususnya antara Komisi Kepemudaan dengan Bina Iman Anak (BIA) dan Bina Iman Remaja (BIR). Pembinaan iman sejak usia dini menjadi fondasi penting agar anak-anak dan remaja tidak mudah tergoda oleh berbagai tawaran dunia yang menyesatkan.
Lebih lanjut, Mgr. Yohanes mengajak agar kaum muda tidak menjadi “angkatan yang bengkok”, melainkan meneladani Yesus yang tetap setia melaksanakan kehendak Allah. Yesus sendiri pernah mengalami penolakan di kampung halamannya, namun Ia tidak berhenti berkarya. Penolakan justru mendorong-Nya untuk pergi ke tempat lain dan membawa rahmat yang lebih luas. Kerendahan hati Yesus yang besar inilah yang patut menjadi teladan bagi kaum muda.

Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan acara pembuka dan penyambutan para peserta. Dalam sambutannya, Mgr. Yohanes kembali mengungkapkan keprihatinannya terhadap realitas kaum muda di Keuskupan Agung Palembang, di mana banyak anak muda hadir dalam pertemuan, tetapi perlahan menghilang setelah kegiatan selesai.
Mengutip pesan Paus Fransiskus, Mgr. Yohanes menegaskan bahwa kaum muda bukan hanya milik masa depan, tetapi juga milik masa kini. Jika kaum muda tersesat, bukan hanya masa depan yang menjadi suram, melainkan masa kini pun ikut kehilangan arah. Karena itu, kebangkitan kaum muda di mana-mana menjadi harapan agar dunia ini semakin ramah untuk dihuni bersama.

Ia pun mengajak para pelayan pastoral agar tidak jemu dalam mendampingi kaum muda. Kaum muda membutuhkan arahan dan pendampingan yang penuh cinta. Mereka adalah anak panah, sementara para pendamping adalah busur yang mengarahkan agar anak panah itu melesat tepat ke sasaran.
Rangkaian hari pertama pertemuan ditutup dengan sesi perkenalan antar peserta dan rekreasi bersama, sebagai langkah awal membangun kebersamaan dan semangat persaudaraan dalam pelayanan kaum muda di Regio Sumatra.
***Yuyuani Daro
