Masa depan Gereja dan bangsa ada di tangan anak muda, tapi tanpa bekal yang kuat, potensi itu bisa layu. Sadar akan hal ini, Komisi Kepemudaan (Komkep) dari enam keuskupan se-Regio Sumatera berkumpul di Rumah Retret Giri Nugraha (RRGN) Palembang pada Kamis (5/2/2026) untuk merancang “kompas” kaderisasi yang lebih jelas dan terstruktur.
Pertemuan yang berlangsung pada 4-6 Februari ini memasuki hari kedua. Fokus pertemuan ini membahas program kaderisasi berjenjang, sebuah misi besar untuk melahirkan kader-kader Katolik yang tidak hanya aktif di dalam gereja, tapi juga berani terjun ke dunia politik dan kebijakan publik.
Mengenal Konsep “Servus KTKJ”
Salah satu sorotan dalam sesi ini adalah paparan dari Ketua Komkep Keuskupan Tanjungkarang, Romo Yohanes Agus Susanto dan Diva mengenai konsep Servus KTJK (Servus Keuskupan Tanjungkarang). Nama ini punya arti mendalam, yaitu “Kader Pelayan Keuskupan”.

Latar belakangnya cukup menantang: adanya keprihatinan atas lemahnya militansi iman Orang Muda Katolik (OMK) saat berhadapan dengan ruang publik dan politik. Untuk menjawab itu, disusunlah tiga tingkatan kaderisasi yang disesuaikan dengan usia, yaitu Tingkat Dasar (16–19 tahun) yang berfokus pada pengenalan diri dan disiplin menulis jurnal harian; Tingkat Madya (18–26 tahun) yang melibatkan mahasiswa untuk lebih peduli pada isu sosial; dan Tingkat Utama yang menyiapkan anak muda untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan atau organisasi kemasyarakatan agar bisa membawa semangat Kristus dalam perubahan sosial.
Bukan Tugas Satu Komisi Saja
Satu poin penting yang muncul adalah bahwa urusan kaderisasi bukan “beban” Komisi Kepemudaan semata. Sekretaris Eksekutif Komkep KWI, Romo Frans Kristi Adi Prasetya dalam paparannya menegaskan bahwa ini adalah tanggung jawab lintas komisi. Hal itu menurut Romo Kristi dapat ditempuh dengan kolaborasi, jenjang dasar didampingi Komkep, jenjang madya dibantu Komisi Pendidikan, dan jenjang utama dikawal oleh Komisi Kerawam (Kerasulan Awam).

Modul Bersama, Semangat Regional
Meski tiap keuskupan punya karakter yang berbeda, ada kesepakatan untuk menyusun modul kaderisasi bersama untuk tingkat Madya dan Utama. Tujuannya agar ada standar kualitas yang sama di seluruh Sumatera. Sedangkan untuk tingkat dasar, tiap keuskupan diberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai konteks lokal masing-masing.
Pertemuan ini menjadi bukti nyata bahwa Gereja di Sumatera tidak main-main dalam menyiapkan kader pemimpin masa depan yang militan, kompeten, dan siap melayani masyarakat luas.
***Diakon Bednadetus Aprilyanto
