Hari Minggu Biasa V
Yes. 58:7-10; Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16; BcO Kej 39:1-23.

“Jangan Jadi Garam yang Tawar”
Saudara-saudari yang terkasih, hari ini Yesus menyampaikan sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi jika direnungkan sungguh menantang cara kita hidup. Dalam Injil hari ini Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia… kamu adalah terang dunia.” Soal garam, umat Keuskupan Agung Palembang ini ahlinya. Kita tahu betul, kalau pempek kurang garam, rasanya hambar—pempeknya jadi seperti “pempek pertobatan”: mengajak kita menahan diri, bukan karena niat puasa, tetapi karena memang tidak ada rasanya. Sebaliknya, kalau kebanyakan garam, habis makan langsung haus—bukan haus Roh Kudus, melainkan haus es. Dari sini kita belajar bahwa garam itu kecil dan sederhana, tetapi pengaruhnya besar kalau takarannya pas.
Yesus juga mengingatkan bahwa garam bisa menjadi tawar. Bukan karena garamnya lupa jati diri, melainkan karena tercampur dengan hal-hal lain. Begitu juga iman kita. Iman bisa menjadi “tawar” kalau terlalu banyak campuran: iri hati, gosip, dendam, malas, dan yang paling modern, pencitraan rohani. Kadang kita cepat sekali memposting, “Sedang melayani,” tetapi yang dilayani justru kamera terlebih dahulu. Yesus tidak melarang kita bersaksi, tetapi Ia mengingatkan tujuannya: supaya orang melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa, bukan memuliakan akun. Terang itu fungsinya menerangi, bukan menyilaukan.
Supaya pesan Injil ini mudah dibawa pulang, mari kita ringkas menjadi lima langkah sederhana dengan kata G-A-R-A-M.
G – Gali rasa Injil setiap hari. Minimal lima menit membaca Sabda Tuhan sebelum membaca status orang lain, agar rasa iman kita tidak hilang.
A – Aksi kasih yang nyata. Seperti kata Nabi Yesaya: bagikan roti, lindungi yang lemah, jangan menutup mata. Mulailah dari yang kecil—menolong tetangga, memperhatikan yang sakit, menyisihkan rezeki, dan mau mendengarkan yang sedang susah.
R – Rendah hati dan tidak cari panggung. Garam itu larut, tidak pamer. Kebaikan yang paling terasa sering justru yang tidak disorot.
A – Arahkan pujian kepada Tuhan. Kalau orang terberkati oleh kebaikan kita, biarlah mereka semakin dekat kepada Bapa, bukan sekadar kagum pada kita.
M – Menyalakan terang di rumah dan lingkungan. Lampu harus ditaruh di tempatnya. Mulailah dari rumah: berkata baik, jujur, tidak mudah marah. Kalau grup WhatsApp mulai panas, jangan jadi “kompor”, tetapi jadilah “lampu”: menerangi, bukan membakar.
Saudara-saudari yang terkasih, Yesus tidak meminta kita menjadi “superhero rohani”. Ia hanya meminta kita menjadi garam dan terang. Garam itu sedikit, tetapi memberi rasa. Terang itu kecil, tetapi mengalahkan gelap. Maka marilah kita pulang dari Misa hari ini dengan satu tekad sederhana: di mana pun kita berada—di keluarga, kantor, sekolah, pasar, maupun paroki—kita mau membuat hidup orang lain lebih “berasa” dan lebih “terang”, supaya nama Tuhan semakin dimuliakan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Frandy Pascalis-Tingkat VI
Foto: Pinterest
