Pertemuan Komisi Kepemudaan (Komkep) Regio Sumatera resmi berakhir. Namun, bagi para pendamping Orang Muda Katolik (OMK), ini bukanlah akhir cerita, melainkan langkah awal untuk turun ke lapangan dengan semangat baru.
Bukan Sekadar Penutupan
Acara yang digelar di Rumah Retret Giri Nugraha (RRGN) Palembang sejak 4 Februari ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi pada Kamis (6/2/2026) siang. Dipimpin oleh Sekretaris Eksekutif Komkep KWI, Romo Frans Kristi Adi Prasetya dan didampingi Koordinator baru Komkep Regio Sumatera, Romo Hieronymus Indra Sepriandika, SCJ momen ini menjadi peneguhan bagi seluruh peserta.

Romo Frans menegaskan bahwa hasil refleksi dan rekomendasi yang sudah dirumuskan selama tiga hari adalah “kompas” untuk pelayanan ke depan.
Dalam homilinya, Romo Kristi mengutip peribahasa klasik: “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Pesannya jelas: sebagai pelayan pastoral, jejak apa yang ingin kita tinggalkan untuk orang muda?
“Kita diutus untuk menemani OMK, dan dalam pendampingan itu kita juga dipanggil untuk meninggalkan jejak yang baik,” tegas Romo Kristi.
Semangat ini diperkuat dengan teladan Santo Paulus Miki dan para martir Jepang yang diperingati pada hari yang sama. Para martir ini jadi pengingat agar para pendamping tidak lelah merangkul dan menemani OMK meski tantangan pelayanan tidak mudah.
Ubah Kegelisahan Jadi Kepekaan
Romo Kristi juga mengajak para peserta untuk “move on” dari rasa gelisah menuju kepekaan. Kepekaan ini muncul dari pengalaman merasakan kasih Tuhan sendiri. Kalau kita sudah merasa dicintai Tuhan, otomatis kita bakal lebih peka dan tulus dalam mendampingi orang muda.

Membawa Pulang Komitmen
Misa ini menjadi “bensin” rohani bagi para peserta sebelum kembali ke keuskupan masing-masing. Mereka pulang tidak dengan tangan hampa, melainkan membawa komitmen untuk setia menemani dan peka terhadap kebutuhan generasi muda Gereja di seluruh Sumatera.
***Diakon Bednadetus Aprilyanto
