Renungan Harian Senin, 9 Februari 2026

1Raj. 8:1-7,9-13; Mzm. 132:6-7,8-10; Mrk. 6:53-56; BcO Kej 41:1-15.25-43.

Percaya sepenuhnya pada Iman.

Pancaran iman akan bersinar dalam sebuah tindakan

Saudara-saudari yang terkasih, Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin tersimpan diam di sudut ruang, tertutup debu waktu, namun tetap hidup dan berdenyut di dalam hati. Kenangan itu tidak menuntut untuk diingat, tetapi setia menunggu untuk disentuh kembali oleh kasih.

Begitulah kisah seorang anak dengan mainan mobil kecilnya. Mainan itu bukan sekadar benda, melainkan buah dari perjuangan, hadiah dari ketekunan, dan saksi masa kecil yang penuh harapan. Ia merawatnya dengan setia: dimainkan, dibersihkan, dan dijaga dengan penuh kasih. Ketika waktu berlalu dan masa kanak-kanak ditinggalkan, mobil itu tak lagi bergerak di lantai rumah, tetapi tetap berdiam dalam ruang kenangan. Suatu hari, saat ia merapikan ruangan dan hatinya tersentuh oleh ingatan lama, lahirlah sebuah inisiatif yang sederhana namun penuh makna. Ia membuat sebuah wadah kecil, menyerupai akuarium, dihiasi bunga dan foto-foto kenangan. Di sanalah ia meletakkan mobil kesayangannya dan menaruhnya di ruang tamu—tempat ia dapat terus melihat dan mengenang perjalanan hidupnya. Kasih tidak membiarkan kenangan terbuang; kasih memilih untuk menjaga.

Saudara-saudari terkasih, kasih sejati selalu melahirkan gerak. Kasih tidak pernah diam. Ia mendorong hati untuk bertindak dan mengambil inisiatif. Demikian pula yang kita dengarkan dalam bacaan pertama. Karena kasihnya kepada Allah, Raja Salomo tergerak untuk membangun rumah bagi Tuhan. Ia menyadari bahwa Allah yang Mahabesar berkenan tinggal di tengah umat-Nya. Dengan kerendahan hati ia berkata, “Sekarang aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.” Kasih yang hidup selalu menemukan jalannya: membentuk kesetiaan, memurnikan pelayanan, dan menumbuhkan tanggung jawab. Ketika kasih Allah berdiam dalam diri kita, kita pun belajar bersikap benar—sebagai orang tua yang sabar, anak yang setia, saudara yang peduli, dan sahabat yang hadir sepenuh hati.

Dalam Injil, kita melihat Yesus yang terus berjalan. Ia tidak menetap, sebab kasih-Nya tidak mengenal batas. Ia melangkah dari satu tempat ke tempat lain, mencari yang terluka dan menyentuh mereka yang tersingkir. Orang-orang pun berlari-lari mendekati-Nya, percaya bahwa dengan menjamah jubah-Nya saja, hidup mereka dapat dipulihkan. Itu bukan iman yang menuntut, melainkan iman yang merendah; bukan iman yang memaksa Tuhan, melainkan iman yang sadar akan kerapuhan diri. Dari sini, kita diajak bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih berlari mencari Tuhan, atau justru menjauh ketika Tuhan hadir dalam diri sesama yang lemah, asing, dan membutuhkan?

Renungan ini mengajak kita menengok ke dalam hati. Berapa banyak waktu, perhatian, dan kasih yang terbuang percuma? Berapa sering hati kita justru dipenuhi iri, dendam, dan luka yang terus kita pelihara? Iman yang hidup selalu tampak dalam kasih, inisiatif, dan tindakan nyata. Iman seperti itu tidak tumbuh seketika; ia dibentuk perlahan, dimurnikan oleh proses, dan diteguhkan oleh kesadaran yang terus diperbarui. Di sanalah kita belajar menjadi murid yang sejati—orang-orang yang membiarkan kasih Allah bertumbuh, bergerak, dan tinggal di dalam hidup kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Delho Panca-Tingkat II

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.