Menjaga Nyala Cahaya: Saat Umat dan Gembala Bersatu untuk Masa Depan Imam Diosesan di Indonesia

Foto: Tangkapan Layar Youtube Paroki Cikarang

Minggu (15/2/2026) pagi di Gereja Paroki Ibu Teresa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat bukan sekadar Perayaan Ekaristi rutin biasa. Di balik kemegahan gedung gereja yang diresmikan pada 27 Agustus 2025 silam, ada sebuah misi yang lebih mendalam, membangun “tiang kokoh” bagi jiwa para pelayan Tuhan.

Unio Imam Diosesan Indonesia menggelar penggalangan dana untuk pembinaan lanjut (ongoing formation) para imam projo atau imam diosesan se-Indonesia. Misa ini dipimpin langsung oleh Uskup Ruteng sekaligus Pembina Unio Indonesia, Mgr. Siprianus Hormat, didampingi Uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, serta jajaran pengurus Unio Indonesia dan Pastor Paroki Cikarang, Romo Robertus Guntur Dewantoro.

Bukan Sekadar Barisan Jubah Putih

Dalam homilinya yang menyentuh, Mgr. Siprianus berbagi refleksi tentang sebuah pemandangan indah barisan imam yang panjang berarak menuju altar dalam Perayaan Tahbisan Uskup Larantuka. Namun, beliau melontarkan pertanyaan reflektif yang jujur: Apakah barisan para imam ini akan tetap kuat di masa depan dan menjadi kebanggan Gereja? Apakah hati mereka akan tetap bersih dan setia serta menjadi gembala yang berkenan kepada Allah?

Mgr. Siprianus Hormat Uskup Keuskupan Ruteng | Foto: Tangkapan Layar Youtube Paroki Cikarang

“Imam bukan robot rohani,” tegas Mgr.

Siprianus. Beliau mengingatkan bahwa seorang imam adalah manusia biasa yang tidak jatuh karena satu dosa besar secara tiba-tiba, melainkan sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang terabaikan: kelelahan yang dipendam, kesepian yang tak tertangani, kebiasaan-kebiasaan buruk yang dibiarkan, hingga luka batin yang tidak disembuhkan.

Pembinaan: Sebuah Kebutuhan, Bukan Aksesori

Gereja menyadari bahwa jumlah imam yang banyak tidak otomatis menjamin kualitas yang matang. Oleh karena itu, menurut Bapa Uskup pembinaan lanjut bagi para imam diosesan kini dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar “aksesori” tambahan.

Pembinaan ini mencakup aspek-aspek hidup bagi seorang imam, yaitu kematangan pribadi agar tidak mudah “dibajak” oleh emosi, nafsu, atau ambisi; integritas karakter agar mampu mengelola emosi, menjaga relasi yang bijaksana, serta menjaga kemurnian imamat; dan kebijaksanaan untuk terus memilih “pintu kehidupan” yang penuh disiplin dan kesetiaan di tengah godaan dunia yang serba instan.

Membangun Masa Depan Gereja Lokal

Romo Guntur Dewantoro selaku Pastor Kepala Paroki Cikarang mengajak seluruh umat untuk memberikan dukungan penuh. Senada dengan itu, Mgr. Siprianus menekankan bahwa dukungan umat, baik melalui doa maupun dana adalah wujud nyata bahwa umat tidak hanya menilai imam dari jauh, tetapi mau ikut menyalakan cahaya dalam diri mereka.

Romo Guntur Dewantoro Pastor Kepala Paroki Cikarang | Foto: Tangkapan Layar Youtube Paroki Cikarang

“Imam yang matang adalah berkat bagi keluarga, anak-anak, orang miskin, dan seluruh umat,” tegas Bapa Uskup.

Dengan mendukung pembinaan para imam ini, Gereja Indonesia sedang memastikan bahwa barisan para pelayan Tuhan tidak hanya sekadar panjang dan megah secara visual, tetapi benar-benar matang, kuat, dan kokoh berjalan dalam hikmat Roh Kudus.

“Di atas semuanya mari kita doakan para imam agar mereka setiap hari memilih hidup yang bertumbuh dalam hikmat Allah dan hidup dalam integritas hati,” tutup Mgr. Siprianus.

***TJK (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.