L. Manik Mustikohendro: Waspadai Ketimpangan Kualitas, Perkuat Sinergi Antar Lembaga Pendidikan Katolik

L. Manik Mustikohendro memaparkan presentasinya. | Foto: Komsos KAPal

Memasuki hari kedua pertemuan Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik Regio Sumatera di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Kamis (12/3/2026), para peserta terdiri dari jajaran Komisi Pendidikan Keuskupan, pengurus MPK, perwakilan yayasan-yayasan pendidikan, hingga para pimpinan Perguruan Tinggi Katolik yang tersebar di wilayah Sumatera ini diajak bercermin.

Pertemuan dengan tema “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera” ini menghadirkan pembicara dari Komisi Pendidikan KWI, L. Manik Mustikohendro.

Cermin Evaluasi melalui Data Objektif

Dalam paparannya, ia mengajak peserta untuk melihat dan mendalami hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) di Regio Sumatera. Menurutnya, data tersebut merupakan gambaran sekaligus cermin evaluasi bagi para pemangku kepentingan untuk merespons tantangan pendidikan dengan langkah yang tepat.

Romo Chrispinus Silalahi OFMCap dan Bapak L. Manik Mustikohendro. | Foto: Komsos KAPal

Secara umum, menurutnya LPK di Sumatera menunjukkan dominasi akademik yang kuat dengan capaian nilai rata-rata yang konsisten mengungguli sekolah negeri maupun swasta lainnya. Meski secara kuantitas jumlah lembaga Katolik merupakan bagian kecil dari total sekolah di Sumatera, namun secara efektif mereka mampu menyerap proporsi siswa yang jauh lebih besar. Hal ini menandakan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan Katolik tetap berada di level yang sangat tinggi.

Tantangan Ketimpangan Internal

Namun, di balik prestasi tersebut, terdapat catatan reflektif mengenai adanya ketimpangan kualitas di internal sekolah Katolik. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Ordo, Tarekat, atau Kongregasi tercatat sebagai pemuncak prestasi pada mata pelajaran utama seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Di sisi lain, laporan ini memberikan perhatian khusus bagi LPK berstatus negeri dan beberapa sekolah di bawah Yayasan Keuskupan yang performanya masih perlu ditingkatkan.

Paradoks Kuantitas dan Kualitas

Salah satu temuan paling tajam dalam evaluasi ini adalah lemahnya korelasi antara banyaknya jumlah siswa dengan indeks kompetensi pendidikan. Temuan ini mematahkan asumsi lama bahwa sekolah dengan murid yang melimpah secara otomatis memiliki mutu yang lebih baik.

L. Manik Mustikohendro. | Foto: Komsos KAPal

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat sekolah dengan populasi siswa yang besar namun prestasi akademiknya masih berada di bawah rata-rata wilayah. Hal ini menjadi kritik bagi para pengelola sekolah agar tidak hanya fokus mengejar kuantitas siswa, tetapi juga harus memprioritaskan penguatan pedagogis dan kedalaman akademik.

Standar Mutu Merata

Menyikapi hal tersebut, pertemuan di Palembang ini menekankan pentingnya sinergi antar-yayasan untuk menghapus sekat-sekat perbedaan kualitas akademik. Keunggulan yang selama ini terkonsentrasi di sekolah-sekolah tertentu diharapkan dapat ditularkan melalui sistem pendampingan dan standarisasi mutu yang lebih terintegrasi.

Hal ini sejalan dengan visi Ketua Majelis Nsional Pendidikan Katolik (MNPK), Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM, yang menekankan bahwa sekolah Katolik harus menjadi pembawa kabar baik. Salah satu solusi konkret yang ditawarkan adalah penguatan Sentra Belajar Guru (SBG) sebagai motor transformasi. Melalui SBG ini, para pendidik dibina secara berkelanjutan agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, melek teknologi, namun tetap berpegang pada etika dan spiritualitas.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.