Tiga Pilar Gerakan PSE: Solidaritas, Pemberdayaan, dan Kesejahteraan Bersama

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Hari ketiga kegiatan Sosialisasi Program Paroki Tangguh dimulai pada Minggu (15/3) pukul 08.00 WIB di Aula Gloria. Setelah sarapan bersama, para peserta mengikuti sesi pemaparan mengenai tugas pokok dan fungsi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) serta Seksi Sosial Paroki (SSP).

Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Palembang, Romo Lorensius Rakidi, dalam pemaparannya menegaskan bahwa menjadi relawan tanggap bencana merupakan bagian penting dari panggilan para pegiat PSE. Menurutnya, pelayanan sosial yang dilakukan PSE merupakan bentuk nyata perwujudan iman melalui tindakan kasih kepada sesama.

Romo Lorensius Rakidi | Foto : Komsos KAPal

“Kita membantu korban bencana alam merupakan perwujudan iman. PSE juga merupakan gerakan iman yang mengedepankan kesejahteraan bersama,” tegas Romo Rakidi di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan bahwa pelaksana Komisi PSE di Keuskupan Agung Palembang adalah Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo yang beralamat di Jalan SMB II KM 11, Kecamatan Alang-Alang Lebar. Melalui lembaga ini, berbagai program pelayanan sosial dijalankan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Menurut Romo Rakidi, gerakan PSE dilandasi semangat cinta kasih. Para relawan dipanggil untuk menjadi rasul yang tangguh dengan menghadirkan Kristus melalui pelayanan nyata di tengah masyarakat.

“Sebagai rasul yang tangguh, kita dipanggil untuk menghadirkan Kristus dalam pelayanan sebagai relawan,” ujarnya.

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa gerakan PSE memiliki tiga ciri utama, yaitu swadaya, pemberdayaan, dan solidaritas. Ketiga ciri tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan tiga pilar utama pelayanan Komisi PSE.

Pilar pertama adalah Aksi Puasa Pembangunan (APP). Menurutnya, APP bukan sekadar upaya mengumpulkan dana, tetapi menjadi sarana untuk menghimpun umat agar bersama-sama membangun gerakan solidaritas. Melalui APP, umat diajak membangun Gereja yang peduli dan mau berbagi dengan sesama.

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Pilar kedua adalah Hari Pangan Sedunia (HPS). Program ini menjadi wujud kepedulian Gereja Katolik terhadap persoalan pangan dan kesejahteraan para petani. HPS juga mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan agar pangan dapat diproduksi tanpa merusak bumi serta menghasilkan makanan yang sehat bagi masyarakat.

Sementara itu, pilar ketiga adalah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang diwujudkan melalui Credit Union atau Koperasi Kredit. Program ini bertujuan membangun sistem ekonomi berbasis solidaritas, di mana masyarakat saling mendukung demi kesejahteraan bersama, bukan semata-mata mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Di akhir pemaparannya, Romo Rakidi mengajak para peserta untuk terus memperjuangkan iman melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai pegiat PSE dan relawan, mari kita berjuang agar iman kita sungguh menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya tindakan konkret dalam menghadapi berbagai persoalan sosial di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Para relawan diharapkan mampu hadir dan bergerak cepat ketika terjadi bencana maupun ketika menemukan keluarga yang hidup dalam kondisi pra-sejahtera.

Dengan semangat kebersamaan dan solidaritas, para pegiat PSE dan relawan diharapkan dapat terus menghadirkan pelayanan yang membawa manfaat bagi banyak orang serta menjadi tanda kasih bagi masyarakat luas.

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.