Hari Sabtu dalam Oktaf Paskah
Kis. 4:13-21; Mzm. 118:1,14-15,16ab-18,19-21; Mrk. 16:9-15. (P)

Menjadi Utusan
Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita melihat sebuah situasi yang sangat manusiawi. Setelah kebangkitan, kabar pertama justru datang dari Maria Magdalena yang dengan penuh semangat memberitakan bahwa Yesus Kristus telah bangkit. Namun, para murid tidak langsung percaya. Mereka masih terjebak dalam kesedihan, ketakutan, dan keraguan. Sikap ini menunjukkan bahwa bahkan orang-orang terdekat Yesus pun pernah mengalami pergulatan iman.
Kisah ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi ketika menghadapi kesulitan hidup—entah dalam keluarga, pekerjaan, atau masa depan—iman kita sering goyah. Kita ingin tetap percaya, namun hati kita kerap dipenuhi pertanyaan dan kegelisahan. Dalam situasi seperti itu, kita diingatkan bahwa iman bukan berarti tidak pernah ragu, melainkan berani tetap berharap di tengah keraguan.
Sebagai pengikut Kristus yang hidup di tengah masyarakat yang beragam, kita dipanggil untuk menjadi saksi melalui cara hidup kita. Kesaksian tidak selalu harus lewat kata-kata, tetapi nyata dalam tindakan sederhana: hidup jujur, saling membantu, menjaga kerukunan, dan setia dalam iman. Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, Ia memang menegur ketidakpercayaan mereka, tetapi sekaligus mengutus mereka untuk mewartakan Injil. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk dipakai-Nya.
Karena itu, marilah kita bertanya dalam hati: apakah kita masih ragu seperti para murid, ataukah kita berani membuka diri untuk menjadi saksi kebangkitan Tuhan? Kabar kebangkitan Kristus tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus hidup setiap kali kita memilih untuk percaya, berharap, dan menghadirkan kasih Tuhan dalam hidup sehari-hari. Semoga Tuhan senantiasa menguatkan dan memberkati langkah hidup kita semua.
**Fr Antonius Bintang-Tingkat I
