Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a. BcO Kis. 23:1-11.
Harapan di Balik Penderitaan

Saudara-saudari terkasih, menjadi saksi kabar sukacita dan mewartakan Injil bukanlah hal yang mudah. Tantangan demi tantangan akan sering kita jumpai, baik itu berasal dari dalam diri kita maupun dari luar diri kita. Keraguan dan ketakutan menjadi hal utama yang sering kita rasakan. Dalam bacaan pertama hari ini, ketika Paulus berada di kota Korintus, Paulus juga merasakan ketakutan dan keraguan untuk menjalankan misi mewartakan firman Tuhan. Ketakutan akan penganiayaan oleh bangsa Yahudi di bawah pimpinan Galio menjadikan Paulus ragu untuk mewartakan firman Tuhan. Dalam ketakutan dan keraguannya, Paulus menerima peneguhan melalui sebuah penglihatan di mana Tuhan sendiri berfirman “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.”
Rasa ragu dan ketakutan seringkali menjadi penghambat diri kita dalam melakukan pewartaan kabar sukacita Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ditengah keraguan itu, kita diajak kembali untuk menyadari akan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Seperti Paulus, Tuhan tidak akan membiarkan kita merasa sendiri dalam rasa takut dan keraguan. renungan hari ini mengajak kita untuk tidak membiarkan rasa takut dan ragu menguasai hidup kita. Sebaliknya, mari kita melangkah dengan iman, percaya bahwa Tuhan selalu menyertai dan meneguhkan kita. Dalam keluarga, komunitas, maupun kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk tetap menjadi saksi kasih dan kebenaran Injil.
Saudara-saudari terkasih, apa yang dialami oleh Paulus dalam ketakutan dan keraguannya, serta apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari, sebenarnya sejalan dengan sabda Yesus ini. Ketakutan, penolakan, bahkan kesulitan dalam mewartakan Injil bisa menjadi “dukacita” yang kita rasakan. Namun, Yesus menjanjikan bahwa semua itu tidak akan sia-sia. Jika kita tetap setia, dukacita itu akan diubah menjadi sukacita yang sejati, sukacita karena melihat karya Tuhan nyata dalam hidup kita dan orang lain.
Yesus juga menegaskan bahwa pada akhirnya tidak seorang pun dapat merampas sukacita itu dari kita. Inilah sumber kekuatan kita dalam pewartaan: bukan pada kemampuan diri sendiri, tetapi pada janji Tuhan yang setia. Sama seperti Paulus yang diteguhkan untuk tidak takut, kita pun diteguhkan oleh Yesus bahwa setiap penderitaan dan perjuangan dalam iman memiliki tujuan yang indah.
Saudara-saudari terkasih, ketika kita merasa takut, ragu, atau bahkan ingin menyerah, ingatlah bahwa Tuhan sedang bekerja dalam proses itu. Dukacita yang kita alami hari ini bukanlah akhir, melainkan jalan menuju sukacita yang lebih besar. Dengan demikian, kita diajak untuk tetap setia, terus melangkah, dan percaya bahwa pada waktunya Tuhan akan mengubah setiap air mata menjadi sukacita yang penuh. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Yohanes Jumadi (Tingkat IV)
