
PALEMBANG — Suasana khidmat dan sarat akan nuansa budaya leluhur menyelimuti Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosario, Palembang, pada perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu (7/6/2026). Umat paroki hadir dan melebur dalam perayaan iman yang dipadukan secara apik dengan tradisi budaya Jawa melalui Misa Inkulturasi Jawa.
Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto. Beliau didampingi oleh Pastor Paroki Santa Maria Ratu Rosario, Romo Anastasius Yohanes Rettob, MSC; Romo Petrus Sukino; serta Diakon Bernardetus Aprilyanto. Ada pemandangan menarik sekaligus sakral pada perayaan kali ini. Para romo dan diakon tampak mengenakan pakaian liturgi yang dipadukan dengan blangkon, penutup kepala khas Jawa. Alunan musik liturgi pun sepenuhnya menggunakan lagu-lagu berbahasa Jawa.

Kristus sebagai Santapan Hidup Kekal
Dalam homilinya, Romo Kino mengajak umat untuk merenungkan kembali esensi dari Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Beliau menekankan betapa besarnya kasih Allah yang mewujud dalam sakramen mahakudus tersebut.
“Kita bersyukur karena memiliki Tuhan yang begitu baik kepada kita, Ia rela memberikan diri-Nya sebagai santapan bagi kita, sebagai jaminan untuk hidup kekal,” ungkap Romo Kino dalam homilinya.

Harapan Keterlibatan Komunitas
Misa Inkulturasi ini tidak hanya menjadi sebuah perayaan seremonial, melainkan juga ruang gerak bersama bagi komunitas. Yustinawati, menyampaikan harapannya agar momentum ini dapat meningkatkan soliditas dan partisipasi aktif seluruh warga keturunan Jawa di paroki.
“Semua umat komunitas Jawa diharapkan dapat terlibat dalam persiapan, pelaksanaan, dan pasca Misa. Baik keterlibatan dalam liturgi, terutama dalam kelompok paduan suara (koor), maupun dalam persiapan lain yang dibutuhkan,” ujarnya.

Tiga Tahun Merawat Tradisi dan Iman
Bagi Anna, seorang umat yang hadir, perayaan tahun ini terasa sangat spesial karena menandai konsistensi paroki dalam merawat keberagaman budaya selama tiga tahun terakhir.
“Misa Inkulturasi Jawa di Paroki Santa Maria Ratu Rosario ini sudah berjalan di tahun ketiga. Ini memberikan pengalaman iman yang berbeda dan sangat berkesan. Perpaduan liturgi Katolik dengan budaya Jawa membuat perayaan Ekaristi terasa khidmat dan hangat,” tutur Anna.
Ia menambahkan bahwa melalui perayaan ini, ia merasakan langsung bagaimana iman Katolik dapat tumbuh dan hidup subur di dalam rahim budaya lokal tanpa sedikit pun kehilangan makna sakralnya.

“Harapan saya, dan mungkin harapan semua umat, Misa Inkulturasi Jawa ini dapat terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai sarana memperkaya kehidupan beriman sekaligus melestarikan budaya Jawa. Semoga semakin banyak umat, khususnya generasi muda dari komunitas Jawa, yang terlibat aktif, sehingga menjadikan Gereja sebagai rumah yang merangkul keberagaman dalam persatuan iman,” pungkasnya.
Perayaan Ekaristi berjalan dengan lancar dan ditutup dengan berkat meriah dari Sakramen Mahakudus. Perayaan ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh umat Paroki Santa Maria Ratu Rosario Palembang yang pulang membawa sukacita iman dan keluhuran budaya.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
