
PALEMBANG – Para imam, biarawan, dan biarawati se-Dekanat Palembang berkumpul bersama untuk merefleksikan kembali esensi panggilan pelayanan mereka di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern. Kegiatan rekoleksi yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan pada tanggal 9 Juni 2026, bertempat di Kapel Santo Yohanes Paulus II yang berada di dalam Kompleks Rumah Ibadat Jakabaring, Palembang. Pertemuan rohani ini menjadi ruang refleksi bersama bagi para pelayan altar dan kaum religius agar tidak hanyut dalam arus digitalisasi yang kian dominan.
Hadir sebagai pemateri adalah Pastor Paroki Santa Maria Ratu Rosario Seberang Ulu Palembang, Romo Anastasius Yohanes Rettob, MSC yang akrab dipanggil Romo Hans. Dalam pemaparannya, Romo Anastasius membawakan materi mendalam bertajuk “Menjadi Gembala yang Punya Hati, Bukan Sekedar Admin Rohani di Era AI”. Pembahasan ini dikupas secara komprehensif dengan mengacu pada dokumen kepausan terbaru, yaitu Ensiklik Magnifica Humanitas (MH) yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIV pada 15 Mei 2026, sebuah ensiklik yang secara khusus menyoroti perlindungan martabat manusia di era kecerdasan buatan.

Dalam salah satu sesinya, Romo Hans mengingatkan para peserta mengenai bahaya spiritual terbesar yang mengintai para pelayan Gereja saat ini.
“Risiko terbesar era sekarang bukanlah mesin yang berubah menjadi manusia, melainkan ketika manusia itu sendiri yang merasa puas hidup menjadi seperti mesin-serba terprediksi, teroptimasi, namun kehilangan kemampuan untuk mengasihi,” tegas Romo Hans.
Lebih lanjut, Romo Hans menggarisbawahi bahwa kecerdasan buatan secanggih apa pun hanyalah tiruan akal budi tanpa memiliki hati. Ia menyerukan agar para gembala dan pelayan umat senantiasa menjaga kehangatan hati mereka dalam melayani jiwa-jiwa.
“Kecerdasan buatan mungkin bisa berkhotbah tentang kasih, tetapi ia tidak akan pernah bisa menangis di atas mimbar karena mencintai umatnya. AI boleh saja menyajikan seribu ayat penghiburan, namun hanya tangan manusialah yang mampu mengusap air mata sesama yang sedang berduka,” ungkapnya secara langsung di hadapan para peserta rekoleksi.

Romo Hans juga mengajak seluruh peserta untuk bertobat dari tiga ilah palsu di era digital, yakni ilah efisiensi, ilah popularitas, dan ilah kendali. Melalui materi tersebut, para imam dan biarawan-biarawati diingatkan bahwa sakramen dan pelayanan sakramental, seperti Sakramen Rekonsiliasi, mutlak membutuhkan tatapan mata dan kehadiran personal yang nyata, sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi chatbot manapun. Keberhasilan sebuah karya pastoral tidak boleh diukur hanya dari sekadar efisiensi jadwal paroki atau banyaknya jumlah interaksi di media sosial.
Melalui rekoleksi ini, para imam, biarawan, dan biarawati Dekanat Palembang diharapkan pulang membawa semangat baru untuk kembali ke tengah-tengah umat dengan membawa ketulusan hati dalam melayani umat di Keuskupan Agung Palembang.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
