Romo Petrus Noegroho Agoeng Membedah Pesan Paus Leo XIV: Menjaga Suara dan Wajah Manusia di Tengah Era AI

Romo Petrus Noegroho Agoeng membedah pesan Paus Leo XIV. | Foto: Komsos KAPal

BANYUASIN – Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), Romo Petrus Noegroho Agoeng, membedah secara mendalam Pesan Paus Leo XIV pada Hari Komunikasi Sosial (HKS) ke-60 kepada peserta Pelatihan Teknik Videografi dan Pembuatan Profil Paroki/Lembaga yang berlangsung di Wismalat Podomoro, Kabupaten Banyuasin, pada Sabtu (13/6/2026) pagi.

Mengangkat tema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia di Tengah Era AI”, Romo Agoeng mengingatkan para penggiat komsos agar tidak kehilangan esensi kemanusiaan di balik pesatnya inovasi digital.

Anugerah Suci yang Tak Tergantikan dan Tantangan Antropologis AI

Dalam pemaparannya, Romo Agoeng menegaskan bahwa identitas fisik dan rohani manusia memiliki nilai yang sakral. AI boleh maju, namun ada batasan ilahi yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh algoritma.

“Suara dan wajah manusia pada dasarnya adalah suci, sebab itu semua berasal dari Allah sendiri. Wajah dan suara kita merupakan anugerah yang sangat unik dan khas yang tidak tergantikan. Kita bukanlah sekadar makhluk dari rumus-rumus biokimia, tetapi merupakan pantulan kasih dari Allah sendiri yang menciptakan manusia menurut gambar dan citra-Nya,” ujar Romo Agoeng di hadapan para peserta pelatihan di Wismalat PodomoroKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya.

Namun, kehadiran Artificial Intelligence (AI) saat ini membawa tantangan antropologis yang serius. Teknologi modern kini mampu mensimulasikan wajah, suara, pengetahuan, hingga empati dan persahabatan manusia. Romo Agoeng menyoroti bahaya laten di mana relasi antarmanusia mulai terganggu atau bahkan digantikan oleh teknologi, seperti maraknya penggunaan chatbot.

Peserta pelatihan komsos. | Foto: Komsos KAPal

Ketergantungan yang berlebihan pada kecerdasan buatan ini lambat laun dapat menurunkan daya pikir, kreativitas, serta melunturkan daya nalar kritis manusia. Kendati demikian, Romo Agoeng memberikan tips praktis agar manusia tetap memegang kendali, salah satunya dengan melatih kemampuan membuat prompt (perintah) yang tepat dan baik kepada AI.

“Kendati AI sudah merasuki hidup manusia, jangan pernah kehilangan ruang untuk merenung, jangan kehilangan ruang untuk hening, dan jangan kehilangan ruang untuk merefleksikan diri,” pesannya mengingatkan.

Tiga Pilar Solusi Menghadapi Inovasi Digital

Menyikapi gelombang digitalisasi ini, Romo Agoeng memaparkan tiga pilar solusi utama yang ditawarkan Gereja untuk menghadapi inovasi digital agar tetap humanis:

  • Tanggung Jawab: Pilar ini ditekankan kepada para penyedia platform teknologi. Mereka tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan semata (profit), tetapi wajib memikirkan kebaikan bersama (bonum commune).
  • Kerja Sama: Perlu adanya sinergi yang kuat dari semua pihak—mulai dari industri, akademisi, dunia pendidikan, hingga para seniman—untuk mewujudkan kewargaan digital yang berkesadaran.
  • Pendidikan: Ini merupakan fokus utama Gereja. Gereja harus mendorong literasi media dan literasi AI guna meningkatkan daya pikir kritis umat dalam memilah informasi.
Peserta pelatihan komsos. | Foto: Komsos KAPal

Panggilan dan Aksi Nyata Komsos Paroki: Bukan Sekadar Seksi Dokumentasi

Pada bagian akhir, Romo Agoeng memberikan pemaknaan ulang yang mendalam bagi peran komsos di tingkat paroki. Komsos paroki harus mengambil aksi nyata untuk aktif mendidik keluarga, kaum muda, dan para remaja di paroki masing-masing agar tidak tertipu oleh manipulasi teknologi. Literasi ini krusial demi melindungi umat dari penyalahgunaan wajah dan suara (seperti fenomena deepfake).

Menutup arahannya, Romo Agoeng memberikan pesan menohok sekaligus memotivasi para penggiat media Gereja mengenai mentalitas pelayanan digital.

“Bagi penggerak komsos, viral bukanlah tujuan utama, tetapi hanyalah bonus dari apa yang sudah kita kerjakan. Teman-teman komsos jangan hanya menjadi konsumen dunia digital, tetapi jadilah produsen di dalamnya. Kita boleh menggunakan AI, tetapi teknologi harus membantu pelayanan, jangan sampai kasih kehilangan tempatnya. Ingat, komsos bukan seksi dokumentasi, tetapi jembatan komunikasi seluruh kehidupan Gereja dan mewartakan kehadiran Kristen. Gereja tidak dipanggil untuk sekadar hadir di media digital, tetapi menghadirkan kasih Kristus di dalamnya,” pungkas Romo Agoeng.

**BAY

Leave a Reply

Your email address will not be published.