Hos. 10:1-3,7-8,12; Mzm. 105:2-3,4-5,6-7; Mat. 10:1-7
Dipanggil dan Diutus

Saudara-saudari yang terkasih, setiap orang tentu pernah merasa bahwa dirinya biasa-biasa saja. Mungkin kita merasa tidak memiliki kemampuan yang istimewa atau tidak pantas untuk melakukan sesuatu yang besar. Namun, Injil hari ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memilih orang karena mereka sudah sempurna. Tuhan memilih mereka, lalu membimbing dan menguatkan mereka.
Dalam Injil hari ini, Yesus memanggil kedua belas murid-Nya satu per satu. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada nelayan, pemungut cukai, bahkan ada yang kelak mengkhianati Yesus. Namun, Yesus tetap memanggil mereka dan mempercayakan tugas yang besar, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan melihat hati dan kesediaan seseorang, bukan sekadar kemampuan atau masa lalunya.
Setelah memanggil mereka, Yesus memberi mereka kuasa dan mengutus mereka. Artinya, Tuhan tidak hanya memberi tugas, tetapi juga memberikan kekuatan untuk melaksanakannya. Demikian juga dalam hidup kita. Sebagai orang beriman, kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Mungkin bukan dengan berkhotbah di depan banyak orang, tetapi melalui kehidupan sehari-hari: berkata jujur, mau membantu sesama, mengampuni, dan menjadi pembawa damai di tengah keluarga maupun lingkungan sekitar. Dari sikap-sikap sederhana itu, orang lain dapat merasakan kasih Tuhan.
Saudara-saudari terkasih, Yesus juga berpesan kepada para murid agar pergi kepada “domba-domba yang hilang dari umat Israel” dan mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Pesan ini mengingatkan kita bahwa pewartaan dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Sebelum berpikir untuk mengubah dunia, marilah kita terlebih dahulu menjadi pribadi yang membawa kasih Tuhan di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan di lingkungan tempat kita tinggal.
Saudara-saudari yang terkasih, sebagai orang yang masih belajar mengikuti Yesus, saya juga menyadari bahwa menjadi murid Tuhan bukan berarti harus menjadi orang yang sempurna. Yang Tuhan harapkan adalah hati yang mau menjawab panggilan-Nya. Jika kita mau menyerahkan diri kepada Tuhan, Ia akan menuntun dan memberi kekuatan kepada kita. Semoga melalui Injil hari ini, kita semakin berani menjawab panggilan Tuhan dengan setia. Marilah kita menjadi pewarta kasih Tuhan, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi terutama melalui kehidupan kita sehari-hari. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Yosepin Manurung
