Hos. 8:4-7,11-13; Mzm. 115:3-4,5-6,7ab-8,9-10; Mat. 9:32-38
Menyadari Berkat Tuhan

Saudara-saudari terkasih, ada seorang bapak yang biasa disapa Pak Joko. Ia adalah tipe orang yang setiap hari ke gereja dengan daftar permintaan yang panjang. Baginya hubungan dengan Tuhan adalah hubungan yang saling menguntungkan. Ia merasa waktu yang ia habiskan di gereja sebanding dengan permintaan-permintaan yang ia ajukan. Tanpa sadar keangkuhannya ini membuatnya menjadi seorang yang taat tetapi terlalu banyak menuntut.
Ketika hasil yang ia dapatkan tidak sesuai dengan keinginannya, ia dengan mudah menggerutu dan menyalahkan Tuhan. Tanpa sadar Pak Joko membuat dirinya menjauh dari Tuhan, kendati seberapa sering ia hadir di gereja untuk menerima berkat dari Sang Pemberi Hidup.
Nabi Hosea dalam bacaan pertama menegur umat Israel yang menanam angin dan menuai badai. Mereka terus meminta berkat namun hati mereka tetap jauh dari Tuhan. Mereka membangun berhala yang di dasari oleh keangkuhan hatinya sendiri yang perlahan menggerogoti jiwa dan hati mereka, sehingga jauh dari Tuhan. Mereka lupa bahwa berkat sejati bukan terletak pada apa yang kita dapatkan, melainkan pada kelekatan kita dengan Sang Pemberi Hidup tanpa perlu banyak menuntut.
Berbeda dengan orang Israel pada masa Hosea, orang bisu dalam bacaan Injil hari ini tidak memiliki kemampuan untuk memohon, tidak bisa bersuara, dan tidak ada tawar menawar apapun. Ia hanya pasrah, menunggu Yesus menyembuhkannya dengan penuh belas kasih. Orang banyak membawanya kepada Yesus dan ia sembuh.
Saudara-saudari terkasih, Joko memiliki suara namun tidak dapat berbicara dengan benar karena hatinya ditutup oleh keserakahan. Ia lupa untuk bersyukur untuk napas kehidupan yang masih bisa ia hirup setiap hari. Ia gagal mengerti maksud Tuhan yang ingin ia berusaha mewujudkan keinginannya dengan rahmat dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Secara tidak sadar ia sedang menyembah egonya sendiri. Pada akhirnya ia sadar, bahwa berhala terbesar dalam hidupnya adalah egonya sendiri.
Setiap detik dalam hidup kita adalah ujian untuk mengukur seberapa dalam kita mampu mencintai dan mensyukuri kehadiran Tuhan, Sang Gembala yang selalu tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, bahkan sebelum kita sempat memintnya.Tuhan tidak membutuhkan daftar kebutuhan kita, Ia merindukan hati yang tahu mengucap syukur atas rahmat sekecil apapun yang diberikan tanpa banyak protes. Saat kita berhenti menuntut dan mulai bersyukur, saat itulah Tuhan bekerja dalam keheningan hidup kita.
Fr. Natalius Alan D.P.S.
