
PALEMBANG – Dalam rangkaian Masa Perkenalan Siswa Seminari (Mapersis) Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung mulai 8-12 Juli 2026, para siswa Seminari Menengah Santo Paulus Palembang mengikuti sosialisasi tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta sharing pengalaman bersama Generasi Samaritan (GenSa) Kamis (9/7/2026) pagi. Kegiatan yang berlangsung di Aula Semangat ini menghadirkan Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkal Pinang, Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus Esong sebagai pemateri.
Dalam sambutannya, Prefect Studiorum Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, Aloysius Kristiawan, menegaskan bahwa pembekalan ini merupakan bagian dari proses pembentukan agar calon imam memiliki kepekaan terhadap realitas masyarakat serta untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberpihakan Gereja terhadap martabat manusia di tengah berbagai persoalan kemanusiaan.
“Kegiatan ini bertujuan memberikan pendasaran mengapa Gereja harus peduli pada isu-isu kemanusiaan dan tidak boleh bersikap netral terhadap persoalan tersebut. Seorang calon imam dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus dengan membela martabat manusia, terutama mereka yang terluka dan menjadi korban ketidakadilan,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Romo Paschal, demikian biasa disapa, mengajak para seminaris melihat realitas tentang kejahatan perdagangan orang di Indonesia, termasuk perubahan modus yang semakin memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan berbagai platform daring untuk merekrut korban. Kondisi itulah yang menjadi salah satu alasan penting Gereja Katolik Regio Sumatera menyerukan tentang darurat TPPO sebagai salah satu program prioritas.
“Kita perlu memahami bahwa perdagangan orang bukan semata persoalan hukum, melainkan persoalan iman, kemanusiaan, dan martabat manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah,” jelas Romo Paschal.
Lebih lanjut, alumni Seminari St. Paulus Palembang yang juga penggagas gerakan Generasi Samaritan (Gensa) ini mengungkapkan bahwa kejahatan perdagangan orang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Menurutnya, ada aneka cara yang dipakai pelaku untuk menjebak korban.
“Pelaku tidak lagi mengandalkan kekerasan fisik, tetapi memanfaatkan relasi, kepercayaan, media digital, dan berbagai bentuk manipulasi untuk menjebak korbannya,” terangnya.
Melengkapi sesi tersebut, Generasi Samaritan memperkenalkan gerakan orang muda yang lahir dari semangat untuk mengenal Tuhan melalui pelayanan kepada mereka yang terluka. Melalui pembinaan, edukasi, dan aksi nyata, GenSa mengajak kaum muda menjadi pribadi yang memiliki mata yang terbuka melihat penderitaan, hati yang peka terhadap jeritan sesama, dan tangan yang siap membantu.
Kehadiran Generasi Samaritan memberikan kesaksian bahwa orang muda tidak hanya dipanggil untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani, tetapi juga menjadi pelaku belas kasih yang berani membela martabat manusia. Semangat Orang Samaria yang Baik Hati menjadi inspirasi bagi setiap anggota untuk tidak melewati mereka yang menderita, melainkan hadir, menemani, dan menghadirkan harapan.
Melalui kegiatan ini, harapannya para calon imam semakin memahami bahwa pewartaan Injil tidak dapat dipisahkan dari pembelaan terhadap martabat manusia. Gereja dipanggil untuk berdiri bersama mereka yang lemah, menjadi suara bagi yang tidak bersuara, serta menghadirkan kasih Allah secara nyata di tengah berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk perdagangan orang dan kekerasan terhadap kelompok rentan.
***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)
