Mgr. Yohanes Harun Yuwono: 100 Tahun FCh Melayani dengan Dedikasi Kasih Tanpa Batas

PALEMBANG — Sebuah perjalanan iman dan kemanusiaan yang luar biasa genap berusia satu abad. Kongregasi Suster St. Fransiskus Charitas (FCh) merayakan puncak 100 tahun kehadirannya di Indonesia dalam sebuah perayaan penuh syukur dan haru yang digelar di Ballroom Asisi, Charitas Hospital Palembang, Jumat (9/7/2026).

Mengusung tema “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita”, perayaan ini menjadi momentum untuk mengenang kembali sejarah panjang para suster yang datang sebagai pengemban misi kemanusiaan. Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, dalam sambutannya menyampaikan sebuah refleksi yang mendalam mengenai esensi kehadiran Charitas di bumi nusantara.

Melayani Tanpa Batas

Dalam sambutannya, Mgr. Yohanes menegaskan bahwa kehadiran para suster Charitas sejak awal adalah wujud nyata dari cinta yang murni dan inklusif.

“Engkau bukan manusia serba bisa, namun bersama Sang Pemberdaya, engkau bermunajat meretas batas dan segala sekat. Tanpa udang di balik batu, hanya pewartaan hati yang mengabdi, menjadi saudari tak terpisahkan dari mereka yang kau sapa,” ujarnya tegas.

Ia menambahkan bagaimana para suster meletakkan pusat pelayanannya di atas bukit, jantung Kota Palembang, untuk menyembah Tuhan melalui orang-orang yang menderita.

“Kau peluk hangat mereka yang berduka, kau hibur mereka yang hancur berpilu. Kau timang mereka yang lahir maupun yang mati, kau satukan jiwa ragamu sendiri untuk suka duka manusia.”

Bertahan di Masa Kelam

Bapa Uskup juga mengajak mengenang masa-masa sulit kekejaman penjajahan Jepang, di mana para suster harus bertaruh nyawa demi mempertahankan misi kemanusiaan mereka.

“Terpahat di masa awal, terhalang oleh penindasan Jepang. Melayang nyawa saudari-saudari sekandung, sebapa, sebunda. Kau tumpahkan air mata tanpa rasa putus asa. Kala merdeka bersama Republik tercinta, kau seka air mata dalam bangga, melanjutkan karya yang tertunda,” kenang Mgr. Yohanes.

Ketangguhan mental para suster inilah yang dinilai berhasil melahirkan berbagai karya besar di bidang sosial, kesehatan, dan pendidikan saat ini. Bapa Uskup menekankan bahwa sekolah-sekolah yang didirikan Charitas bukan sekadar mencetak anak-anak pintar secara akademis, melainkan membentuk karakter.

“Kau semai mental baja bunga-bunga bangsa. Kau dirikan sekolah bukan agar anak-anak pandai bersumpah serapah. Melalui olah nalar, semoga talenta bunga-bunga bangsa mekar dan berbuah,” tegasnya.

Perayaan akbar seabad ini dihadiri oleh Pimpinan Umum Kongregasi FCh, Sr. M. Patricia FCh, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC serta sejumlah Uskup dari wilayah tempat Komunitas Charitas mengabdi, antara lain Uskup Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubianto SX, dan Uskup Paramaribo, Suriname, Mgr. Karel Martinus Choennie. Selain itu hadir pula sejumlah delegasi dari Belanda, di antaranya Ketua Yayasan Charitas Belanda, Romo Jochem Josephus Pieternel Maria.

Mawar Perdaban

Meskipun sarat akan kenangan yang memantik refleksi, menjelang akhir sambutannya, Mgr. Yohanes mencairkan suasana Ballroom Asisi dengan sebuah pantun jenaka khas yang disambut riuh tepuk tangan.

“Beras merah itu sehat, lebih enak daripada tiwul… Charitas itu rahmat dan berkat, maka… I love you full!” tutur Bapa Uskup.

Melalui perayaan 100 tahun ini, Kongregasi Suster Charitas diharapkan terus abadi menjadi “mawar peradaban” yang senantiasa menebarkan keharuman kasih bagi bangsa Indonesia hingga beratus-ratus tahun ke depan.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.